Rakyatmerdekanews.co.id, Bengkalis – Mari kita beri tepuk tangan virtual untuk S (35), seorang pria di Kelurahan Terkul yang tampaknya terlalu bosan menjadi manusia normal. Bukannya sibuk memperbaiki masa depan, pria ini justru lebih memilih “adu mekanik” melawan peralatan dapur dan orang tuanya sendiri menggunakan parang.
Peristiwa yang terjadi pada Kamis (23/4) ini membuktikan bahwa kombinasi antara pengangguran, emosi labil, dan “micin terlarang” adalah resep sempurna untuk menjadi malin kundang modern. S, yang baru pulang mengais brondolan sawit, yang mungkin hasilnya tak seberapa, memilih untuk meluapkan rasa frustrasinya kepada benda mati.
Dapur yang tenang mendadak jadi arena perkusi. S memukuli barang-barang di sana dengan parang seolah-olah panci dan kuali tersebut punya utang budi padanya.
Tak puas “menang” melawan panci, S kemudian naik level. Ia menghampiri ayahnya yang sedang duduk santai, mungkin sedang menikmati masa tua yang dirusak oleh kehadiran S. Saat ditegur karena berisik, S bukannya sungkem malah mengeluarkan “tongkat sihir” tajamnya.
Ayah dan ibunya yang seharusnya mendapatkan kasih sayang di hari tua, malah disuguhi atraksi pengancaman nyawa. Benar-benar definisi anak yang sangat “berbakti” pada setan.
Lucunya, setelah mengancam akan membelah nasib orang tuanya, S kembali ke belakang rumah untuk mengutip brondolan sawit lagi. Mungkin ia pikir polisi bakal maklum kalau dia sedang “kerja bakti”. Sayangnya, tim Polsek Rupat tidak sedang mencari rekan bisnis sawit, melainkan mencari calon penghuni sel.
Plot twist-nya sudah bisa ditebak oleh anak SD sekalipun. AKBP Fahrian Saleh Siregar mengonfirmasi bahwa urin S mengandung methamphetamine. Pantas saja nyalinya setinggi langit sampai berani menodong orang tua; ternyata otak si pelaku memang sudah “terpanggang” uap sabu.
Kini, si “Ahli Parang” ini sudah resmi mengamankan satu tiket VIP di hotel prodeo Polsek Rupat. Parang kesayangannya pun disita agar ia punya waktu luang untuk merenung di balik jeruji: apakah rasa sabu itu sebanding dengan rasa malu memakai baju oranye?
Pesan Moral: Kalau mau halusinasi jadi pendekar, main game saja, jangan pakai sabu. Kasihan orang tua, sudah susah membesarkan, malah mau “dipanen” pakai parang.(FN)






