Rakyatmerdekanews.co.id, Dharmasraya, Sumatera Barat – Jagat media sosial dihebohkan oleh rekaman video amatir yang viral sejak Minggu (28/6/2026). Video tersebut merekam aksi brutal seorang wanita di Kecamatan IV Koto Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, yang memaki dan mengusir adik iparnya secara semena-mena.
Mirisnya, tindakan arogan itu dilakukan di depan ibu mertua serta anak-anak korban yang masih di bawah umur. Puncaknya, pada Rabu pagi (1/7/2026), korban berinisial T yang sudah tidak tahan atas tekanan psikis dan fisik akhirnya memilih nekat melarikan diri kembali ke kampung halamannya di Duri, Riau, dengan hati hancur karena terpaksa meninggalkan buah hatinya.
Berikut adalah fakta pilu di balik konflik keluarga yang memicu kecaman luas dari warganet:
1. Bermula dari Kompor Kontrakan Dijual Suami
Berdasarkan informasi yang dihimpun, T merupakan warga asli Duri, Riau, yang merantau ke Dharmasraya demi mengikuti suaminya. Pasangan ini tinggal di sebuah rumah kontrakan yang letaknya berdekatan dengan rumah orang tua sang suami.
Konflik pecah lantaran keterbatasan ekonomi. Suami T diketahui tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk menyambung hidup, kompor di kontrakan mereka bahkan telah dijual oleh sang suami.
Kondisi ini memaksa T untuk menumpang memasak di dapur rumah mertuanya demi memberi makan kedua buah hatinya. Namun, kehadiran T justru memicu kejengkelan dan rasa tidak suka dari kakak ipar perempuannya.
2. Diusir dan Dimaki di Depan Anak yang Menangis Ketakutan
Peristiwa memilukan yang terekam dalam video terjadi pada Minggu pagi (28/6/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu, T baru saja membeli bahan makanan dan berniat memasak di dapur mertua. Secara tiba-tiba, kakak ipar perempuannya datang membabi buta, melontarkan makian, serta kata-kata kasar.
Tidak hanya menghujat T, wanita tersebut juga membawa-bawa nama keluarga besar serta ayah kandung T dengan nada meremehkan dan menantang, hingga berujung pada pengusiran. Sang ibu mertua hanya terdiam seribu bahasa tanpa bisa melerai.
Melihat ibunya diintimidasi, anak korban yang ketakutan langsung menangis. Sambil memeluk sang ibu, anak korban spontan membujuk, “Ibu, kita pulang saja ke Duri.”
Usai diusir, T terpaksa mengemas kembali bahan makanannya yang belum sempat dimasak. Beruntung, seorang tetangga yang merasa iba mengizinkan T menumpang memasak di rumahnya sekaligus memberikan dukungan moral.
Tekanan tidak berhenti di situ. Mengaku terus mendapat intimidasi dan upaya kriminalisasi dari kakak serta adik iparnya, T mengambil keputusan berat. Pada Rabu pagi (1/7/2026), saat keluarga suaminya masih terlelap tidur, T melarikan diri untuk pulang ke Duri, Riau.
Keputusan ini diambil dengan hati yang hancur. Sebagai seorang ibu, ia terpaksa meninggalkan dua anaknya yang masih sangat kecil, yakni seorang anak berusia 11 tahun dan balita laki-laki yang masih berusia 2 tahun 7 bulan kepada keluarga iparnya.
Saat dikonfirmasi, T membantah keras narasi klarifikasi sepihak yang sempat dikeluarkan oleh pihak keluarga suaminya di media sosial. Sambil terisak menahan tangis, T menegaskan bahwa dirinya adalah korban kekerasan psikis dan fisik yang nyata.
“Ini bukan opini seperti yang diklarifikasi keluarga ipar. Ini kisah nyata yang saya alami sendiri. Selama di sana, saya bekerja sebagai pembantu harian lepas di warung untuk mencukupi kebutuhan makan anak-anak karena suami tidak bekerja,” ungkap T sembari menyapu air matanya.
T juga membeberkan bahwa kekerasan yang ia alami sudah berlangsung lama. Sebelum video tersebut viral, telepon genggam milik T bahkan sempat beberapa kali dihempaskan oleh pelaku hingga layarnya pecah dan harus diganti.
“Saya ini perempuan sebatang kara yang ikut suami, tetapi saya disepelekan dan dianiaya secara psikis dan fisik. Video viral itu adalah salah satu bukti perlakuan nyata yang bisa saya rekam. Kepada siapa lagi saya harus mengadu? Alhamdulillah, terima kasih kepada media dan netizen, berkat viralnya kasus ini saya akhirnya bisa keluar dari polemik menyakitkan ini,” pungkas T.
Hingga berita ini diturunkan, video berdurasi singkat tersebut terus mendapat sorotan tajam dari warganet. Publik mendesak pihak terkait, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), serta aparat kepolisian setempat untuk segera turun tangan menindaklanjuti dugaan KDRT serta kekerasan psikis terhadap perempuan dan anak tersebut.(FN)






