Viral Slogan “Yang Bukan Donatur Dilarang Mengatur”, Netizen Saldo Kritis Diminta Terima Kodrat!

Rakyatmerdekanews.co.id, Bengkalis – Waktu Nyata– Dunia jagat maya kembali dihebohkan oleh kemunculan sebuah prinsip hidup baru yang mendadak viral dan menjadi kiblat bagi sebagian kelompok masyarakat. Paham ini dikenal dengan nama Aliran UUD, yang memiliki kepanjangan fiktif nan jujur: Ujung-Ujungnya Duit.

Tidak main-main, aliran ini mengusung slogan tegas yang langsung bikin dompet tipis bergetar: “Yang Bukan Donatur Dilarang Mengatur!”

Berdasarkan investigasi tim redaksi di media sosial, aliran UUD ini menempatkan uang di atas segala-galanya. Dalam “pasal” tidak tertulis mereka, posisi seseorang dalam tongkrongan, organisasi, bahkan hubungan asmara ditentukan oleh seberapa tebal dompetnya.

“Pokoknya kalau Anda banyak duit, telunjuk Anda adalah sabda,” ujar seorang netizen yang mengaku langsung sujud syukur setelah mengadopsi prinsip ini. “Sekali telunjuk menunjuk ke arah kanan, semua orang wajib lari ke kanan, bahkan kalau di kanan itu ada jurang.”

Sebaliknya, bagi mereka yang tidak menyumbang dana alias non-donatur, hak suara mereka otomatis hangus. Jangankan memberi saran, bernapas terlalu keras di dalam rapat pun bisa dianggap sebagai pelanggaran hukum UUD.

Bagi masyarakat yang saldo ATM-nya kritis dan hanya menyisakan digit angka minimal untuk biaya admin, aliran ini memberikan solusi yang sangat praktis dan menohok: Jangan baperan dan terima kodrat!

Juru bicara kaum “Sobat Misqueen” yang enggan disebutkan namanya menyatakan pasrah.”Ya mau bagaimana lagi? Sesuai aturan UUD, kalau tidak ada duit, kita dilarang baperan kalau pendapat kita dianggap angin lalu. Kodrat kita saat ini adalah menjadi penonton setia sambil mengangguk-angguk setuju,” ungkapnya sambil meratapi nasib.

Para ahli psikologi kocak menilai, prinsip “terima kodrat” ini sebenarnya sangat bagus untuk kesehatan mental kaum tanggal tua. Daripada stres memikirkan cara mengatur dunia tanpa modal, lebih baik tidur siang dan menerima kenyataan bahwa dunia ini memang milik para donatur.

Berita ini langsung memicu gelombang komentar kocak dari para netizen di berbagai platform:

“Sangat setuju! Di rumah saya juga berlaku UUD. Istri saya donatur utama, saya cuma donatur perasaan. Jadi saya dilarang mengatur menu makan malam!” – @SuamiTakutIstri.

“Mulai hari ini saya mau pensiun ngasih saran di grup WhatsApp RT. Sadar diri bukan donatur, takut kena pasal dilarang mengatur.” – @WargaBiasaaja.

“Info loker jadi donatur dong, bosen jadi kaum yang nerima kodrat terus.” – @PencariRupiah.

Hingga berita ini diturunkan, aliran UUD terus mendapat pengikut baru, terutama di kalangan bos-bos besar yang hobi menunjuk-nunjuk dan para pekerja yang hobi mengeluh di media sosial. (FN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *