Rakyatmerdekanews, Jakarta – Timbangan adalah alat ukur dalam sektor perdagangan. Namun, terjadi perubahan dan pergeseran makna. Timbangan malah menjadi simbol dalam proses hukum, khususnya keadilan, dan penanda sikap adil. Lalu bagaimana sejarah membentuk simbol tersebut?
Di mana simbol timbangan yang dipegang Dewi Keadilan kerap ditemui di depan gedung pengadilan, di ruang sidang, bahkan pada lambang sejumlah lembaga hukum. Dua piringan tergantung pada sebuah batang yang ditopang tiang di tengahnya. Dalam keadaan seimbang, keduanya berada pada ketinggian yang sama.
Mengapa timbangan dipilih untuk melambangkan keadilan? Apa hubungan antara mengukur berat benda dan memutus benar atau salah? Dan sejak kapan hubungan itu dikenal?
Sejarahnya tidak berasal dari satu peristiwa atau satu kebudayaan. Untuk menjawabnya, DANDAPALA akan mengajak pembaca menelusuri jejak simbol timbangan dari pengadilan di Mesir Kuno, puisi epik Yunani, hingga ikonografi hukum Romawi dan Eropa.
Mesir Kuno: Penimbangan Hati
Salah satu gambaran paling tua mengenai timbangan dalam konteks penghakiman ditemukan dalam tradisi Mesir Kuno. Dalam Coffin Text, kumpulan teks pemakaman yang mulai dituliskan pada peti jenazah sejak Periode Menengah Pertama Mesir, telah terdapat penyebutan tentang penimbangan dalam penghakiman orang yang meninggal.
Sebagaimana dikutip DANDAPALA, Selasa (3/11/2026), Massimo Leone dalam artikelnya Weight Problems: An Enquiry into Scales and Justice (2017), mengutip salah satu bagian teks tersebut: “Your wrongdoing erased by those who weigh the qualities with the scales on the day of judgment.”
Leone menjelaskan bahwa praktik penimbangan berkembang lebih lanjut dalam Book of the Dead, terutama Bab 125, yang dikenal dengan gambaran _weighing of the heart atau penimbangan hati. Dalam gambaran tersebut, hati orang yang meninggal diletakkan pada salah satu piringan timbangan, sedangkan piringan lainnya memuat simbol Ma’at – konsep yang berkaitan dengan kebenaran, keteraturan, hukum, moralitas, dan keadilan.
Dalam adegan itu, Anubis berperan dalam proses penimbangan, Thoth mencatat hasilnya, dan Osiris memimpin pengadilan.
“Hati menjadi bagian penting karena dipandang sebagai saksi atas kehidupan orang yang meninggal. Dengan demikian, penimbangan bukan sekadar pengukuran fisik, melainkan bagian dari pengujian pertanggungjawaban manusia,” tulis Leone.
Sastra Yunani: Kerostasia dan Dike
Dalam tradisi Yunani, timbangan muncul dalam kisah para dewa dan nasib manusia. Dalam Iliad karya Homer, Buku XXII baris 209-213, Zeus mengangkat timbangan emas dan meletakkan nasib Achilles dan Hector pada masing-masing piringannya. Piringan yang memuat nasib Hector kemudian turun, menandakan ajalnya telah tiba.
Namun secara konseptual, adegan itu bukanlah proses peradilan modern. Dalam kajian klasik, praktik tersebut dikenal sebagai _kerostasia_, yaitu penimbangan nasib manusia yang masih hidup, berbeda dengan _psychostasia_ yakni penimbangan jiwa orang yang telah meninggal.
Penelitian Tamás Nótári, The Scales as the Symbol of Justice in the Iliad (2005) menegaskan, “One cannot claim that this idea of Egyptian religion had been transferred in its entirety into Greek thinking.”
Dalam perkembangan berikutnya, timbangan juga dikaitkan dengan Dike, personifikasi keadilan dalam mitologi Yunani. Pada abad kelima sebelum Masehi, timbangan telah menjadi atribut yang lazim bagi Dike, antara lain dalam _Libation Bearers karya Aeschylus.
Romawi Kuno dan Dewi Justitia
Tradisi Yunani kemudian berhubungan dengan personifikasi keadilan Romawi: Iustitia dan Aequitas. Iustitia lebih dekat dengan pelaksanaan hukum, sedangkan Aequitas berhubungan dengan kewajaran atau fairness.
Aequitas berkaitan dengan perdagangan dan ukuran yang benar. Dalam tradisi Romawi, figur Aequitas tampil pada mata uang dengan membawa timbangan. Simbol ini menyampaikan pesan mengenai kewajaran ukuran dan nilai, termasuk kandungan logam pada mata uang.
Pada masa berikutnya, timbangan menjadi salah satu atribut utama dalam gambaran Justitia. Dalam ikonografi hukum Eropa era Renaisans, sosok perempuan membawa timbangan semakin dikenal sebagai representasi keadilan, berdampingan dengan pedang dan penutup mata.
Sebagaimana dikutip dari Mario Biagioli dalam Justice Out of Balance (Critical Inquiry, 2019): “The balance is the oldest element in the iconography of justice, both secular and divine.”
Dalam buku lambang Cesare Ripa abad ke-16, Iconologia, timbangan dijelaskan sebagai metafora keadilan: setiap orang memperoleh apa yang menjadi haknya, tidak lebih dan tidak kurang.
Mengapa Bukan Alat Ukur Lain?
Secara visual, timbangan memiliki karakter yang mudah dipahami sebagai lambang keadilan. Dua piringannya memungkinkan perbandingan langsung.
Namun Biagioli mengingatkan: “The mechanical objectivity of the balance does not extend to the loading of its pans, which is done by people.” Objektivitas mekanis timbangan tidak mencakup tindakan menempatkan benda pada kedua piringannya. Tindakan itu tetap dilakukan manusia.
Dalam konteks peradilan, hakim tidak sekadar menerima dua sisi yang telah tersedia. Ia harus menentukan fakta mana yang relevan, bukti mana yang dapat dipertimbangkan, serta bagaimana ketentuan hukum diterapkan.
Jejak dalam Kitab Suci
Hubungan timbangan dan keadilan juga ditemukan dalam tradisi keagamaan. Dalam Kitab Ayub 31:6 (KJV): “Let me be weighed in an even balance, that God may know mine integrity.”
Dalam Al-Qur’an Surah Al-Anbiya ayat 47: “Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.”
Setelah mengarungi ribuan tahun, timbangan masih menjadi lambang sikap adil. Ia mengalami perkembangan lintas zaman dengan konteks keagamaan, sastra, ekonomi, dan politik yang berbeda.
Pada akhirnya, timbangan menjadi simbol keadilan karena kemampuannya menggambarkan perbandingan, ukuran, dan keseimbangan. Namun sebagaimana ditunjukkan Biagioli: “Timbangan sebagai alat tidak sepenuhnya menjelaskan proses keadilan. Ada manusia yang menentukan apa yang ditimbang dan bagaimana hasilnya dinilai.”
(Red)
Mengulik Sejarah Timbangan, Alat Dagang yang Bertransformasi Jadi Lambang Hukum



