
Rakyatmerdekanews.co.id, Jakarta — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa rencana ekspor listrik ke Singapura belum bisa dimulai tahun ini. Sebab, kebijakan tersebut membutuhkan pembangunan infrastruktur yang memakan waktu hingga 1,5 tahun. Ia berharap implementasi nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani RI-Singapura tahun lalu dapat segera difinalisasi setelah berbagai aspek teknis dan infrastruktur pendukung diselesaikan. Sebelumnya, Indonesia dan Singapura sepakat untuk mengekspor listrik ke Singapura 3 gigawatt (GW) sampai tahun 2035. Kesepakatan ekspor itu diumumkan dalam pertemuan Leaders’ Retreat antara Presiden RI Prabowo Subianto dan PM Singapura Lawrence Wong.
Kabar ini menjadi kurang menguntungkan bagi Singapura karena negara tersebut tengah berupaya meningkatkan pasokan energi rendah karbon guna memenuhi target transisi energi dan pengurangan emisi. Indonesia sebelumnya diproyeksikan menjadi salah satu pemasok utama listrik bersih bagi Singapura melalui proyek tenaga surya skala besar dan jaringan transmisi lintas batas. Dengan tertundanya ekspor listrik dari Indonesia, Singapura kemungkinan harus menunggu lebih lama untuk memperoleh tambahan pasokan energi hijau yang dibutuhkan, sekaligus mencari alternatif sumber listrik bersih dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan jangka panjangnya. (Red)




