JAKARTA, RAKYATMERDEKANEWS — Kepemimpinan tidak semata-mata lahir dari bakat atau garis keturunan. Kepemimpinan juga dapat dibentuk melalui proses, ikhtiar, kemampuan mengambil keputusan, serta dukungan orang lain.
Pandangan tersebut disampaikan KH Marsudi Syuhud saat memaparkan pemikirannya mengenai hakikat kepemimpinan dalam upaya menyalakan power of connectivity.
Menurut Marsudi, kekuasaan pada hakikatnya berasal dari Allah SWT. Namun, seseorang tetap membutuhkan ikhtiar untuk meraih posisi kepemimpinan.
“Contohnya seperti pemilihan Ketua PBNU, gubernur, presiden, itu tidak ujug-ujug dari Allah, tetapi juga dibarengi dengan ikhtiar.
Kita harus mengenal orang lain yang dapat membantu.
Artinya, semuanya dari Allah, tetapi tetap harus dibarengi dengan ikhtiar dan dukungan orang lain,” ujar KH Marsudi Syuhud.
Ia menjelaskan, terdapat pemimpin yang lahir dari garis keturunan, seperti raja yang kekuasaannya diteruskan kepada generasi berikutnya. Namun, ada pula pemimpin yang terbentuk melalui proses dan usaha.
Dalam proses tersebut, seseorang tidak hanya mengandalkan kemampuan pribadi, tetapi juga membutuhkan dukungan banyak pihak. Menurut Marsudi, seluruh ikhtiar tersebut tetap harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan syariat agama.
“Maka, mereka yang menjadi pemimpin melalui hasil kerja dan usahanya sendiri, sesungguhnya telah memperoleh pencapaian dari proses yang mereka jalani,” tegasnya.
Pemimpin Harus Mampu Memimpin Diri Sendiri
Marsudi juga menekankan bahwa kepemimpinan paling mendasar dimulai dari kemampuan seseorang mengendalikan dan mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
Setiap manusia, kata dia, memiliki tanggung jawab untuk memimpin dirinya. Ketidakmampuan mengambil keputusan secara mandiri dapat menunjukkan lemahnya kepemimpinan seseorang.
“Banyak orang belum tentu bisa mengambil keputusan sendiri. Kalau masih selalu mengikuti keputusan orang lain, belum bisa dikatakan sebagai pemimpin karena masih bergantung kepada orang lain,” katanya.
Menurut dia, salah satu latihan paling sederhana untuk membentuk jiwa kepemimpinan adalah berani mengambil keputusan.
Kemampuan tersebut dapat dibangun melalui proses belajar, pengalaman, pemikiran pribadi maupun masukan dari orang lain.
“Setiap orang bisa belajar untuk melakukan sesuatu yang benar. Pelajaran itu bisa datang dari perkataan orang lain, dari pemikiran kita sendiri, maupun dari berbagai hal yang kita alami. Dari proses itulah seseorang dapat membentuk dirinya menjadi pemimpin melalui ikhtiar,” jelasnya.
Kepemimpinan dan Kemampuan Mengambil Keputusan
Marsudi menilai kemampuan mengambil keputusan menjadi salah satu unsur penting dalam kepemimpinan. Ia mencontohkan situasi peperangan yang menuntut seorang pemimpin mengambil keputusan dalam kondisi tertentu.
Dalam kehidupan sosial, seseorang juga dapat membangun kapasitas kepemimpinannya dengan belajar dari orang lain. Proses tersebut dapat dilakukan dengan mengikuti atau belajar dari figur yang memiliki kemampuan, pengetahuan, pengalaman maupun keteladanan.
“Jadi, ada pemimpin yang lahir karena keadaan dan ada juga yang terbentuk melalui usaha,” ujarnya.
Menurut Marsudi, setelah seseorang berada dalam posisi kepemimpinan, terdapat berbagai model kepemimpinan. Ada pemimpin yang mampu memimpin kelompok, ada yang praktis dan efektif dalam mengambil keputusan, serta ada pula model kepemimpinan yang mengedepankan keputusan berdasarkan kehendak mayoritas.
“Dalam model kepemimpinan demokratis, seorang pemimpin harus mampu mengambil keputusan yang dapat diterima dan diikuti oleh mayoritas kelompok,” pungkasnya.
(Tien)




