Rakyatmerdekanews.co.id, Purworejo -Pemerintah Kabupaten Purworejo memperingati Hari Kartini Tahun 2026 dengan khidmat di Pendopo Kabupaten, Selasa (21/4/2026).
Mengusung tema “Kartini Masa Kini: Berdaya dan Berkarya Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan peran perempuan dalam pembangunan daerah dan bangsa.
Bupati Purworejo, Hj. Yuli Hastuti, melalui sambutan yang dibacakan oleh Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Rita Purnama, menegaskan bahwa semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini harus terus hidup dan relevan dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, Kartini masa kini adalah perempuan yang memiliki kemampuan, kepercayaan diri, serta kesempatan yang setara, sekaligus mampu berkarya dan berkontribusi nyata di berbagai sektor.
“Perempuan masa kini harus berdaya dan berkarya, baik di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, maupun pemerintahan. Di Purworejo, semakin banyak perempuan tampil sebagai pelaku pembangunan—mulai dari pemimpin, pendidik, pelaku usaha, hingga inovator,” ungkapnya.
Bupati juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Namun, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, seperti rendahnya akses pendidikan bagi perempuan, pemberdayaan ekonomi keluarga, serta perlindungan terhadap perempuan dan anak dari kekerasan dan diskriminasi.
Dalam bidang pendidikan, tercatat sebanyak 6.771 anak usia 7–18 tahun di Purworejo belum bersekolah. Selain itu, isu kesehatan ibu juga menjadi perhatian, dengan angka kematian ibu (AKI) pada tahun 2025 mencapai 11 kasus, dan hingga April 2026 tercatat 1 kasus.
“Ini menjadi perhatian serius kita bersama. Saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung pemberdayaan perempuan dan membuka ruang seluas-luasnya bagi mereka untuk belajar, bekerja, dan berkarya,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Peringatan Hari Kartini ke-147 Kabupaten Purworejo, Heny Safaryuni Tataningsih, menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya melanjutkan perjuangan emansipasi perempuan.
“Hari Kartini adalah momen penghormatan atas perjuangan RA Kartini. Harapannya, perempuan di Purworejo dapat terus mandiri dan berkarya di berbagai bidang,” ujarnya.
Berbagai kegiatan turut memeriahkan peringatan ini, mulai dari resepsi, lomba fashion show, lomba keluwesan berkebaya antarorganisasi wanita, penampilan paduan suara oleh PWKI, pembacaan makna Kartini, pertunjukan tari, hingga line dance oleh Dharma Wanita.
Namun di balik semarak peringatan, masih tersimpan persoalan serius. Sepanjang tahun 2025, tercatat 119 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Purworejo, yang terdiri dari 50 kasus terhadap perempuan dan 59 kasus terhadap anak.
“Mayoritas kasus berupa KDRT dan penelantaran anak. Kami terus melakukan pencegahan melalui sosialisasi di sekolah, kegiatan parenting, serta kampanye perlindungan perempuan dan anak,” jelas Heny.
Ia menambahkan, meningkatnya jumlah laporan juga dipengaruhi oleh semakin terbukanya akses pelaporan dan meningkatnya kesadaran masyarakat. Setiap laporan dipastikan ditangani secara serius dengan menjaga kerahasiaan korban.
Dalam pesannya, Heny mengajak perempuan untuk mandiri dan produktif agar mampu melindungi keluarga, serta mengimbau generasi muda agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
Melalui peringatan ini, Pemerintah Kabupaten Purworejo berharap nilai-nilai perjuangan Kartini terus diwariskan, sehingga perempuan dapat menjadi pilar kuat dalam mewujudkan masyarakat yang maju, sejahtera, dan berkeadilan menuju Indonesia Emas 2045.(Kun)






