Jika KDMP Kolaborasi dengan Kampung Industri, Desa Mampu Jadi Pusat Perekonomian Baru

Rakyatmerdekanews.co.id, Jakarta – Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) memberi Indonesia jaringan kelembagaan ekonomi desa yang sangat luas. Dan Kampung Industri milik ASPRINDO dapat memberi arah agar jaringan tersebut tidak hanya bergerak dalam perdagangan dan distribusi, tetapi juga memasuki kegiatan produksi. Untuk itu, KDMP dan Kampung Industri harus bersinergi untuk menjadikan desa tidak hanya seagai pasar bagi barang-barang dari luar, tapi memiliki kemampuan memproduksi, mengolah, mengemas, dan menjual hasil terbaiknya sendiri.

Ketua Departmen Pertanian Dan Agrobisnis DPP Asosiasi Pengusaha BumiPutera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) yang sekaligus Staf Khusus Menteri Imigrasi, Abdullah Rasyid menyatakan program Koperasi Desa Merah Putih atau KDMP membawa harapan besar bagi penguatan ekonomi masyarakat di tingkat desa. Koperasi dapat memperpendek rantai distribusi, memperluas akses pembiayaan, membuka pasar, dan memperkuat posisi tawar petani, nelayan, peternak, perajin, serta pelaku usaha mikro.

Untuk itu, ia menegaskan semua tidak cukup diwujudkan dengan membangun kantor, gudang, gerai, rak pajangan, kendaraan operasional, atau menyediakan berbagai perlengkapan administrasi.

“Sarana fisik memang dibutuhkan, tetapi tidak boleh menjadi ukuran utama keberhasilan. Yang penting adalah KDMP mampu membuat desa mengolah kekayaan ekonominya sendiri,” kata Rasyid pada awak media, Jumat 7 Agustus 2026.

Atas dasar hal itu, ia ia menilai Program Kampung Industri yang sedang dikembangkan ASPRINDO memiliki titik temu yang kuat dengan KDMP. Rasyid menyatakan keduanya dapat dirangkai dalam satu desain pembangunan ekonomi daerah.

“KDMP menyediakan kelembagaan ekonomi yang dekat dengan masyarakat, sedangkan Kampung Industri membangun ekosistem produksi berdasarkan potensi unggulan setiap wilayah. Koperasi menghimpun masyarakat dan mengorganisasi kepemilikan usaha. Kampung Industri mempertemukan bahan baku, teknologi, sumber daya manusia, proses pengolahan, pengemasan, pemasaran, dan akses pasar. Pertemuan antara keduanya dapat mengubah wajah ekonomi desa,” urainya.

Rasyid menyatakan Indonesia sebenarnya tidak kekurangan komoditas. Hampir setiap wilayah mempunyai kekhasan ekonomi. Ada daerah yang dikenal sebagai penghasil kopi, kakao, kelapa, susu, singkong, jagung, rumput laut, ikan, buah-buahan, rempah-rempah, hasil hutan, ataupun produk kerajinan. Masalahnya, sebagian besar kekayaan tersebut masih keluar dari desa sebagai bahan mentah atau produk dengan tingkat pengolahan yang rendah.

“Pola ekonomi seperti ini membuat desa terus berada pada mata rantai paling lemah. Karena itu, pembangunan pedesaan perlu bergerak dari orientasi komoditas menuju orientasi produk. Desa tidak cukup hanya menghasilkan. Desa harus mampu mengolah. Dan Kampung Industri bukan sekadar memindahkan pabrik ke wilayah pedesaan. Namun diarahkan untuk membangun kawasan ekonomi berdasarkan keunikan dan kekhasan potensi setiap daerah. Bentuknya tidak mungkin diseragamkan,” tegasnya.

Kehadiran KDMP, lanjutnya, dapat menjadi jantung kelembagaan Kampung Industri. Koperasi dapat menghimpun petani, nelayan, peternak, perajin, dan pelaku UMKM sebagai anggota sekaligus pemilik kegiatan ekonomi.

“Masyarakat tidak hanya menjadi pemasok bahan baku atau tenaga kerja. Mereka harus memperoleh bagian dari keuntungan yang lahir dari proses pengolahan, pengemasan, pemasaran, dan pengembangan produk,” kata Rasyid.

Dengan model ini, KDMP tidak berhenti sebagai toko desa atau tempat membeli dan menjual hasil produksi. Koperasi masuk ke wilayah yang selama ini lebih banyak dikuasai perusahaan besar: pengolahan, standardisasi mutu, pengemasan, merek, distribusi, dan akses pasar.

“Di situlah koperasi menemukan kembali makna strategisnya. Koperasi bukan sekadar tempat simpan pinjam ataupun perantara perdagangan. Koperasi merupakan alat bagi masyarakat untuk mengonsolidasikan kekuatan ekonomi dan menguasai bagian yang lebih besar dalam rantai nilai,” ucapnya.

Sinergi KDMP dan Kampung Industri harus menjadi tempat tumbuhnya pengusaha dari daerah. Ia menegaskan anak muda desa tidak cukup hanya dipersiapkan menjadi pekerja. Para anak muda perlu diberi kesempatan menjadi pengelola usaha, teknisi, perancang produk, pengembang merek, pemasar digital, eksportir, dan pemilik perusahaan.

“Banyak generasi muda meninggalkan desa bukan karena tidak mencintai kampung halamannya. Mereka pergi karena tidak melihat masa depan ekonomi yang menjanjikan. Ketika pusat produksi, teknologi, pasar, dan kesempatan usaha hadir di daerah, perpindahan ke kota bukan lagi satu-satunya pilihan. Anak muda dapat membangun karier dan usaha di tempat kelahirannya sendiri,” ucapnya lagi.

Produk lokal yang dikelola secara profesional sekaligus dapat menjadi alat promosi daerah. Suatu wilayah tidak lagi hanya dikenal sebagai penghasil kopi, ikan, kelapa, kakao, atau singkong. Daerah tersebut mulai dikenal melalui produk, merek, kualitas, dan inovasi yang lahir dari masyarakatnya.

Untuk memastikan tujuan itu tercapai, ASPRINDO pusat dan daerah harus bekerja dalam satu sistem. DPP, DPW, dan DPC perlu membangun basis data potensi ekonomi secara akurat dan berkala. Data harus mencakup komoditas unggulan, kapasitas produksi, jumlah pelaku usaha, kesiapan lahan, kondisi infrastruktur, kebutuhan teknologi, akses pembiayaan, dan peluang pasar.

“Kampung Industri harus menjadi ruang yang mempertemukan seluruh kekuatan tersebut. Proyek percontohan Kampung Industri ASPRINDO di Kabupaten Paser karena itu tidak dapat dipandang hanya sebagai proyek lokal. Paser dapat menjadi tempat pembuktian apakah industrialisasi dapat tumbuh dari daerah, dibangun berdasarkan potensi setempat, melibatkan pengusaha lokal, dan dimiliki secara luas oleh masyarakat,” ungkap Rasyid.

Apabila KDMP menjadi kelembagaan ekonominya dan Kampung Industri menjadi ruang produksinya, desa tidak lagi sekadar menjadi tempat bahan mentah berasal. Desa akan menjadi tempat produk dilahirkan, merek dibangun, pengusaha tumbuh, lapangan kerja dibuka, dan kesejahteraan diciptakan.

“Arah pembangunan desa tidak semestinya berhenti pada memperbanyak toko dan tempat distribusi. Tantangan sesungguhnya adalah membangun kemampuan masyarakat untuk mengolah kekayaan daerahnya sendiri. Di sanalah KDMP dan Kampung Industri dapat bertemu: menjadikan desa bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai pusat produksi dan pertumbuhan ekonomi baru,” pungkasnya.(***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *