Rakyatmerdekanews.co.id, Bengkalis Duri – (27/7/26) Warga Kecamatan Mandau, Bathin Solapan, Pinggir dan Duri sekitarnya mendadak dihebohkan oleh fenomena alam tahunan yang unik. Bukan gerhana matahari atau banjir rob, melainkan tibanya “Musim Reses” anggota DPRD Bengkalis yang dinilai penonton lebih mirip musim durian: ramai dicari, baunya menyengat, tapi pas dibuka sering kali busuk alias zonk!
Untuk menyambut musim penuh janji ini, warga setempat bahkan sudah menyiapkan sebuah pantun pembuka:
“Bukan main harumnya buah durian,Sayang di dalam busuk sebelah.
Tiap tahun reses jemput aspirasi dewan,Satu pun tak ada yang jadi bertuah.”
Ajang yang seharusnya menjadi wadah sakral untuk menjemput aspirasi rakyat, kini resmi diplesetkan netizen menjadi panggung sandiwara komedi terbaik tahun ini.
Berdasarkan laporan warga di lapangan, performa sebagian anggota dewan saat turun ke daerah pemilihan (Dapil) dinilai sangat “menye-menye”. Alih-alih membawa program kerja yang gahar dan solutif, oknum wakil rakyat ini lebih banyak menebar senyum pepsodent, berfoto ria, dan mengumbar janji manis yang kedaluwarsa sebelum masa sidang berikutnya dimulai.
“Katanya jemput aspirasi setiap tahun. Tapi jangankan terealisasi, hilalnya saja kagak kelihatan!” ketus seorang warga yang enggan disebutkan namanya demi keamanan jatah sembako tahun depan.
Ada pemandangan mistis sekaligus kocak yang selalu berulang setiap tahun. Investigasi tak resmi menemukan bahwa audien yang hadir di acara reses dari tahun ke tahun adalah orang yang sama.
Bahkan, penerima bantuan modal, bantuan sosial, hingga bantuan “ini dan itu” didominasi oleh wajah-wajah yang itu-itu saja. Pengamat humor lokal menduga ada dua kemungkinan: apakah warga Bengkalis lainnya sudah punah, atau wajah-wajah abadi ini memiliki kemampuan time travel (penjelajah waktu) khusus reses.
“Ini sebuah keajaiban medis. Setiap tahun reses, mukanya sama, yang dapat bantuan sama, bahkan posisi duduknya pun sama. Mungkin mereka sudah dikontrak jadi talent penonton bayaran,” kelakar seorang warga Duri.
Masyarakat kini mulai sadar bahwa anggota dewan tidak lagi butuh suara murni dari rakyat jelata untuk menyukseskan acara ini. Rumus sukses reses zaman sekarang ternyata sangat sederhana dan hemat energi: cukup akomodir RT, RW, dan perangkat desa!
Selama jalur birokrasi tingkat bawah ini “diamankan”, maka massa seremonial dijamin akan datang berbondong-bondong memadati tenda. Fungsi reses pun bergeser drastis, dari yang seharusnya forum debat pembangunan daerah, menjadi sekadar seremonial keramaian demi menggugurkan kewajiban laporan surat perintah perjalanan dinas (SPPD).
Sebagai penutup perjuangan rakyat Duri yang gigit jari, mari kita renungkan pantun penutup berikut ini:
“Pergi ke pasar membeli kain kasa,Kain dipotong untuk membungkus ragi.Reses lancar modal RT dan perangkat desa,Habis acara, dewan hilang tak tampak lagi!
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Duri masih menunggu apakah aspirasi mereka tahun ini akan berubah menjadi aspal dan jembatan, atau kembali menguap menjadi angin surga di musim durian berikutnya.(FN)






