Manifestasi Visi Humanis Bupati Kasmarni: Sinergi Taktis Tuah Aliansi Anak Melayu dan Camat Bathin Solapan Jaga Jaring Sosial

Rakyatmerdekanews.co.id, Bengkalis Duri – (10 Juli 2026) – Di tengah pergeseran modernisasi yang cenderung mekanistis, sebuah manifesto kepedulian sosial berbasis kearifan lokal (local wisdom) dihadirkan di kawasan Duri, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis. Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Dewan Pimpinan Pusat – Dewan Pimpinan Harian (DPP-DPH) Tuah Aliansi Anak Melayu memelopori sebuah gerakan filantropi transformatif bertajuk “Jum’at Berkah”. Berkolaborasi dengan Pemerintah Kecamatan Bathin Solapan, aksi ini mengejawantahkan konsep ketahanan pangan sekaligus penguatan spiritualitas publik melalui pembagian paket beras secara cuma-cuma.

Gerakan ini memantik perhatian publik karena berhasil mendobrak rigiditas birokrasi bantuan sosial konvensional. Alih-alih menerapkan sistem kupon yang rumit atau verifikasi administratif yang kaku, penyelenggara mengadopsi pendekatan sosiologis-religius yang humanis. Setiap warga penerima manfaat diajak untuk merefleksikan rasa syukur dengan melafalkan doa kebaikan atau ayat-ayat pendek Al-Qur’an, seperti Surah Al-Fatihah dan Al-Ikhlas.

Secara epistemologis, metode ini mengubah paradigma bantuan sosial dari sekadar transaksi material menjadi sebuah interaksi spiritual yang bermartabat. Warga tidak diposisikan sebagai objek penerima pasif, melainkan aktor sosial yang berkontribusi memberikan energi positif melalui doa bagi keberlangsungan daerah.

Aksi taktis di lapangan dipimpin langsung oleh Ketua Umum DPP-DPH TUAH Aliansi Anak Melayu, Danuartha. Kehadiran jajaran fungsionaris ormas ini di tingkat akar rumput (grassroots) mempertegas fungsi ormas sebagai jembatan artikulasi sosial yang mampu menyerap langsung aspirasi dan realitas dinamika masyarakat terkini.

Camat Bathin Solapan, Muhammad Rusydy MR, S.STP, M.Si., memberikan legitimasi sosiopolitis atas inisiatif kolektif yang digagas oleh representasi pemuda Melayu tersebut. Menurutnya, pendekatan berbasis spiritual ini memicu resonansi emosional yang positif sekaligus mengokohkan modal sosial (social capital) masyarakat.

“Kami dari jajaran birokrasi pemerintahan kecamatan memberikan apresiasi tertinggi atas sinergi strategis yang diiniasi oleh rekan-rekan Ormas Tuah Aliansi Anak Melayu. Melalui program Jum’at Berkah ini, kita menyaksikan transendensi bantuan; tidak sekadar membagikan komoditas pangan, tetapi ada artikulasi nilai sosial yang jauh lebih fundamental,” ujar Camat Muhammad Rusydy secara optimis.

Ia menambahkan bahwa program ini merupakan salah satu bentuk kehadiran negara (state presence) yang adaptif dan persuasif. “Kita ingin mengonstruksi tatanan masyarakat yang humanis dan religius di Bathin Solapan. Dengan mengetuk pintu langit melalui pelafalan doa dan ayat suci, kita memproyeksikan daerah ini agar senantiasa diproteksi dari marabahaya dan diakselerasi menuju kesejahteraan. Inilah wujud pelayanan publik yang paling dekat dengan denyut nadi masyarakat,” tegas alumni STPDN tersebut.

Pada dimensi makro, Ketua DPP-DPH Tuah Aliansi Anak Melayu, Danuartha, menekankan bahwa gerakan ini bukan merupakan aksi sporadis. Gerakan ini dirancang secara struktural untuk mengakselerasi program-program strategis kedinasan yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Bengkalis di bawah kepemimpinan Bupati Kasmarni.

“Aksi ini merupakan pengejawantahan konkret komitmen ideologis seluruh kader Tuah Aliansi Anak Melayu dalam menyokong visi ‘Bengkalis Bermasa’ yang diusung oleh Ibu Bupati Hj. Kasmarni, S.Sos., M.MP. Beliau secara konsisten menginstruksikan penguatan jaring pengaman sosial yang inklusif dan menyentuh masyarakat rentan,” papar Danuartha di sela-sela aktivitas distribusi.

Lebih lanjut, Danuartha menegaskan repositioning Ormas TUAH ALAM dalam lanskap sosiopolitik daerah. “Kami memosisikan diri sebagai mitra strategis (strategic partner) pemerintah. Ormas tidak hanya berfungsi sebagai elemen kontrol sosial yang kritis, tetapi juga harus menjadi problem solver yang aktif merawat kohesi sosial, merekatkan silaturahmi antardesa, dan memitigasi dampak beban ekonomi masyarakat di wilayah Duri,” imbuhnya.

Pendekatan kreatif yang diterapkan terbukti memicu respons emosional yang mendalam dari ratusan warga setempat. Sejumlah penerima manfaat mengakui bahwa metode pelafalan ayat suci berhasil mengeliminasi stigma ‘antrean bantuan’ yang kerap mereduksi martabat warga miskin. Sebaliknya, metode ini memicu iklim komunal yang sejuk, merangsang budaya saling mendoakan, serta memperkuat resiproksitas positif antara masyarakat, organisasi sipil, dan pemangku kebijakan (stakeholders).

Keberhasilan kolaborasi taktis antara Ormas TUAH ALAM dan Pemerintah Kecamatan Bathin Solapan ini diharapkan mampu menjadi pilot project serta pemantik inovasi bagi organisasi kemasyarakatan dan institusi publik lainnya di Kabupaten Bengkalis. Sebuah pembuktian nyata bahwa modernisasi tata kelola sosial dapat berjalan selaras tanpa harus menanggalkan nilai-nilai gotong royong dan kearifan lokal Melayu.(FN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *