Upaya Penguatan Akses Pasar Ekspor, UMKM wilayah Kecamatan Bogor Utara Ikuti Pelatihan Konten Bisnis Dwibahasa dan Strategi Pemasaran Digital

Rakyatmerdekanews.co.id, Bogor – Dalam rangka mendorong daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kancah global, sebuah program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Politeknik Negeri Jakarta bertajuk “Pengembangan Konten Bisnis Dwibahasa bagi UMKM Berorientasi Ekspor untuk Memperkuat Akses Pasar dan Profesionalisme Komunikasi Usaha pada UMKM” telah sukses diselenggarakan.

Acara ini digelar di Aula Kelurahan Kedung Halang 30 Juni 2026 yang secara resmi dibuka melalui sambutan dari Sekretaris Jurusan Administrasi Niaga, Arizal Putra Pratama, B.O.M., M.A.B., bersama Lurah Kedung Halang, Achmad Syahroni, S.AP.

Terselenggaranya kegiatan ini tidak lepas dari peran Sekretaris Kelurahan, Buddy Supriatna, S.Sos., selaku fasilitator yang menjembatani kolaborasi strategis dengan kelompok wirausaha setempat. Acara ini turut dihadiri oleh Imas Chandra Pratiwi, M.S.M., serta jajaran akademisi dan praktisi kewirausahaan.

Pelatihan ini menargetkan audiens spesifik, yakni sekitar 20 hingga 30 pelaku UMKM yang rata-rata telah merintis dan menjalankan usahanya selama kurang lebih lima tahun.

Sebelum intervensi program ini dilakukan, observasi lapangan menunjukkan bahwa mayoritas pelaku usaha masih bergantung pada pola pemasaran konvensional. Pendekatan promosi mereka cenderung berfokus pada penjualan langsung (hard selling) tanpa adanya penceritaan jenama (brand storytelling) yang terstruktur.

Selain itu, keterbatasan dalam menyusun narasi komunikasi dwibahasa menjadi hambatan utama bagi mereka untuk menembus pasar ekspor dan berinteraksi secara profesional dengan calon pembeli mancanegara.

Untuk mengatasi kesenjangan kompetensi tersebut, Ketua PkM acara sekaligus akademisi Dr. Nidia Sofa, S.Pd.I., M.Pd., hadir memberikan materi komprehensif mengenai teknik perancangan konten bisnis dwibahasa. Pendekatan ini dirancang untuk meningkatkan profesionalisme komunikasi usaha, sehingga katalog produk dan materi promosi UMKM memiliki standar global yang dapat diterima oleh pasar internasional.

Memperkuat aspek distribusi informasi, sesi dilanjutkan oleh Pritha Wibisono, SE., seorang Master Trainer UMKM dan kreator digital dengan rekam jejak 15 tahun di dunia kewirausahaan.

Dalam paparannya, Pritha menyajikan data empiris yang menegaskan urgensi adaptasi digital, di mana 82% konsumen masa kini cenderung mencari produk melalui media sosial sebelum memutuskan untuk membeli.

Ia menekankan bahwa konsep branding bukan sekadar membuat logo, melainkan proses membangun persepsi audiens melalui elemen visual, gaya bahasa, dan konsistensi.

Lebih lanjut, Pritha memberikan kerangka taktis dalam membuat konten promosi. Ia memaparkan bahwa konten yang memiliki daya jual tinggi harus memenuhi kriteria 3C: Clear, Catchy, dan Conversion.

Mengubah paradigma konvensional peserta, ia menyoroti bahwa 80% konsumen lebih memilih membeli dari jenama yang mampu memberikan pengalaman personal dibandingkan penawaran produk secara agresif.

Sebagai panduan teknis untuk mengoptimalkan media sosial, Pritha membagikan strategi aplikatif kepada peserta, yaitu diantaranya memproduksi dan mengunggah konten secara konsisten setiap hari dengan intensitas minimal satu kali tayang dan menerapkan taktik storytelling, mengingat konten edukatif memiliki peluang 131% lebih tinggi untuk mengubah pembaca menjadi pembeli dibandingkan promosi langsung.

“Cerita bukan hanya tentang menjual, tapi tentang membuat orang peduli. Dan dari kepedulian, datanglah pembelian,” tegas Pritha saat menutup sesi pembekalannya.

Pasca-pelatihan, transformasi pemahaman di kalangan peserta terlihat secara nyata. Para pelaku UMKM yang sebelumnya mengalami stagnasi promosi, kini memiliki cetak biru yang jelas dalam merumuskan konten pemasaran.

Mereka menyadari pentingnya transisi dari metode hard selling menuju pendekatan naratif berbasis edukasi dwibahasa. Dengan keterampilan baru ini, kelompok UMKM yang hadir diproyeksikan tidak hanya mampu memperkuat kepercayaaan konsumen domestik, tetapi juga siap mengakselerasi peningkatan omzet melalui ekspansi ke pasar global secara lebih profesional dan terukur. (Ratna)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *