Tiga Manajer Piala Presiden 2026 Protes Keras: Diduga Wasit Berat Sebelah di Grup G, Binjai City Pilih Walk Out

Rakyatmerdekanews.co.id. Yogyakarta – Penyelenggaraan babak penyisihan Grup G Piala Presiden 2026 di Stadion Sultan Agung, Bantul, mendadak jadi sorotan tajam. Bukan karena aksi pemain di lapangan, tapi karena rentetan keputusan wasit yang diduga berat sebelah dan merugikan tim tamu.

Tiga manajer dari klub berbeda secara terbuka melayangkan protes keras setelah laga melawan tim tuan rumah, Unaha. Mereka menilai integritas kompetisi tercoreng oleh kepemimpinan wasit yang tidak netral.

1. Binjai City SC: Menolak Lanjutkan Laga karena Penalti “Gaib”
Laga Binjai City SC vs Unaha berjalan panas sejak menit awal. Tim binaan SMSI itu tampil dominan, namun jalannya pertandingan berbalik setelah wasit menunjuk titik putih untuk Unaha. Binjai City sempat mengancam walk out karena menilai penalti itu tidak sah. Demi menghormati kompetisi, mereka bertahan dan bahkan menyamakan skor 1-0.

Masalah muncul lagi di babak kedua. Pelanggaran jelas terhadap pemain Binjai City di kotak penalti lawan diabaikan wasit. Sebaliknya, wasit kembali memberi penalti kedua untuk Unaha. Merasa mental pemain hancur karena ketidakadilan berulang, Binjai City akhirnya memilih mundur dari lapangan.

“Kami memutuskan keluar dari pertandingan karena ini sangat tidak adil,” tegas Manajer Binjai City, Ferdy Yupa dengan nada kecewa.

2. Persimaju Mamuju: Kartu Merah Dinilai Tanpa Alasan Kuat
Nasib serupa dialami Persimaju Mamuju saat menghadapi Unaha. Manajer tim menyebut keberpihakan wasit terlihat vulgar ketika pemain Persimaju diusir dengan kartu merah tanpa alasan kuat.

Akibat keputusan beruntun yang merugikan, tensi memuncak dan kericuhan antar pemain pecah sebelum turun minum babak pertama.

“Kami menegaskan setiap laga harus mengedepankan keadilan dan sportivitas. Persoalan kami bukan soal hasil, tapi dugaan praktik yang mencederai nilai sportivitas. Sepak bola harus jadi ajang persaingan sehat,” ujar Suprianto Paisal, http://S.IP, Manajer Persimaju Mamuju, Sabtu 06/06/2026.

Ia juga menegaskan semua tim sudah berkorban biaya, waktu, dan tenaga. Karena itu kompetisi harus memberi perlakuan adil dan setara ke semua peserta.

3. Persipegaf: Waktu Dipotong dan Kartu Kuning Diragukan
Dugaan “anak emas” di Grup G menguat setelah Persipegaf merasakan hal sama. Manajemen Persipegaf mencatat beberapa kejanggalan saat melawan Unaha:

1. Pelanggaran daifing yang bukan pelanggaran tapi wasit meniup peluit.
2. Injury time babak pertama hanya 4 menit padahal seharusnya 7 menit. Babak kedua kejadian sama terulang.
3. Pemberian kartu kuning yang dianggap tidak pantas.
4. Keamanan sudah bergerak ke depan mengamankan wasit padahal babak pertama belum selesai.

“Kami ingin sepak bola yang benar di Indonesia. Kami minta ada pertemuan untuk tim yang dirugikan agar Panitia dan PSSI menanggapi serius,” kata Manajer Persipegaf.

PSSI Belum Beri Klarifikasi
Rentetan skandal di Grup G ini jadi tamparan keras bagi integritas sepak bola nasional. Publik kini menunggu langkah tegas Komite Wasit dan PSSI untuk mengusut tuntas dugaan keberpihakan.

Penanggungjawab Pertandingan PSSI Piala Presiden 2026, Indryanto, saat dikonfirmasi belum memberi klarifikasi. “Mohon maaf saya lagi mendampingi anak saya wisuda,” ujarnya via WA pribadi, Sabtu 06/06/2026.

Kasus ini menuntut evaluasi menyeluruh agar Piala Presiden tetap jadi ajang pembinaan prestasi, bukan panggung kontroversi. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *