Rakyatmerdekanews.co.id, Jakarta – Sosok Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Drs. H. Anton Bachrul Alam, S.H., kini lebih sering terlihat di masjid-masjid ketimbang di gedung pemerintahan. Mantan Kapolda Jawa Timur dan Kalimantan Selatan ini menarik perhatian publik lewat transformasi spiritualnya yang mendalam setelah memutuskan menjadi bagian dari gerakan dakwah dan tabligh.
Siapa sangka, di balik ketaatannya saat ini, Jenderal bintang tiga ini sempat menaruh kecurigaan besar terhadap gerakan tersebut.
Dalam berbagai kesempatan, Irjen Pol (Purn) Anton Bachrul Alam menceritakan kisahnya yang bertajuk “Terpikat Dakwah”. Awalnya, ia mengaku sempat merasa terusik dengan kehadiran kelompok pria bergamis dan berserban yang mendatangi rumah warga dari pintu ke pintu.
“Dulu saya sempat curiga, ini penampilan kok mirip teroris? Jangan-jangan mereka mengganggu ketenteraman masyarakat,” kenangnya.
Sebagai seorang perwira polisi yang bertanggung jawab atas keamanan, ia tidak ingin gegabah. Anton memutuskan untuk melakukan “operasi intelijen” guna menyelidiki aktivitas jamaah tersebut.
Langkah pertama yang ia ambil adalah mengutus satu orang anggotanya untuk menyamar dan mengikuti kegiatan iktikaf selama tiga hari. Namun, hasil penyelidikan itu justru membuat sang Jenderal terheran-heran. Anggota yang tadinya dikenal jarang beribadah, tiba-tiba pulang dengan perilaku yang jauh lebih religius dan rajin salat tepat waktu.
Masih merasa tidak puas dan penasaran, ia kembali mengutus tiga orang anggotanya untuk melakukan penyelidikan lebih dalam melalui kegiatan “Khuruj” (perjalanan dakwah) selama tiga hari. Hasilnya pun sama; ketiga anggotanya kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik secara spiritual.
Rasa penasaran yang memuncak akhirnya membawa sang Jenderal sendiri turun tangan. Ia memutuskan untuk mendatangi langsung Markas Besar Jamaah Tabligh di Masjid Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Tanpa pengawalan ketat, ia ikut “keluar” selama tiga hari untuk merasakan langsung aktivitas di sana.Momen itulah yang menjadi titik balik hidupnya. Di sana,
ia tidak menemukan paham radikal, melainkan ajakan untuk memperbaiki diri dan mencintai sesama umat manusia. Ia merasa “terpikat” dengan ketulusan dan kesederhanaan dalam berdakwah.
Transformasi itu pun langsung terlihat nyata. Sepulangnya dari penyelidikan mandiri tersebut, sang Jenderal tidak langsung pulang ke rumah, melainkan mampir untuk membeli gamis dan sorban. Ia pulang dengan penampilan baru yang sempat mengejutkan keluarga dan rekan-rekan sejawatnya.
Kini, setelah memasuki masa purnabakti, Komjen Pol (Purn) Anton Bachrul Alam mendedikasikan hidupnya untuk aktif dalam kegiatan Ijtima’ (pertemuan umat) di berbagai daerah. Ia tak segan berjalan dari masjid ke masjid, mengajak orang lain menuju kebaikan, membuktikan bahwa hidayah bisa datang kepada siapa saja, bahkan melalui rasa curiga sekalipun.(FN)






