Rakyatmerdekanews, Jakarta – Di tengah menjamurnya usaha kuliner di kawasan Jalan Haji Senin, belakang Kampus BINUS Kemanggisan, ada satu warung makan yang tetap bertahan dan menjadi bagian dari keseharian warga sekitar. Namanya Warteg 76 Bahari, milik Bang Soleh.
Selama kurang lebih 25 tahun, perjalanan usaha ini tidak selalu berjalan mulus. Bang Soleh mengalami berbagai fase jatuh bangun dalam mempertahankan usahanya. Namun, satu hal yang membuat Warteg 76 Bahari tetap eksis adalah kesetiaan para pelanggannya.
Pelanggan datang dari berbagai kalangan. Mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswa, buruh bangunan, pekerja konveksi, pengemudi ojek online, hingga karyawan kantoran. Mereka datang bukan sekadar untuk mengisi perut, tetapi karena sudah mengenal cita rasa masakan yang ditawarkan.
Di tengah persaingan usaha kuliner yang semakin ramai, Bang Soleh memilih untuk tidak banyak mengubah resep keberhasilannya. Baginya, kuncinya sederhana: rasa harus tetap enak dan harga harus tetap terjangkau.
“Rasa dan harga harus tetap dipertahankan,” demikian prinsip yang terus dipegang Bang Soleh dalam menjalankan usahanya dari tahun ke tahun.
Harga yang ekonomis menjadi salah satu alasan pelanggan tetap memilih Warteg 76 Bahari. Bagi mahasiswa, pekerja harian, maupun masyarakat dengan penghasilan terbatas, makanan yang enak dengan harga yang pas di kantong tentu menjadi pertimbangan penting.
Namun, ada satu prinsip lain yang tidak kalah penting bagi Bang Soleh: pembeli adalah raja.
Prinsip tersebut bukan sekadar slogan. Selama puluhan tahun, hubungan antara warteg dan pelanggan tumbuh menjadi sebuah ikatan yang lebih dari sekadar transaksi jual beli. Pelanggan lama terus datang, sementara pelanggan baru berdatangan dan sebagian kemudian menjadi pelanggan tetap.
Warteg 76 Bahari akhirnya bukan hanya tempat makan. Ia menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat di sekitar Jalan Haji Senin. Di meja-meja sederhana warteg itu, berbagai kalangan bertemu dalam kebutuhan yang sama: mencari makanan yang enak, mengenyangkan, dan tetap bersahabat dengan isi dompet.
Perjalanan 25 tahun Bang Soleh menjadi gambaran bahwa mempertahankan sebuah usaha kecil bukan perkara mudah. Dibutuhkan ketekunan, kemampuan membaca kebutuhan pelanggan, serta konsistensi menjaga kualitas.
Di tengah persaingan kuliner yang terus berkembang, Warteg 76 Bahari memilih bertahan dengan resep yang sederhana: pertahankan rasa, jaga harga, layani pelanggan dengan baik.
Dan selama pelanggan masih merasa cocok, warteg itu akan terus menjadi bagian dari cerita kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Warteg 76 Bahari, 25 tahun bertahan, bukan karena kemewahan tempatnya, tetapi karena rasa, harga, dan kepercayaan pelanggan yang terus dijaga.
(Ikhsan)




