Indonesia Nominasikan Bantul dan Padang ke Kota Kreatif UNESCO 2027, Kriya dan Rendang Mendunia!

Rakyatmerdekanews, Jakarta – Kabar membanggakan dari sektor ekonomi kreatif! Indonesia resmi menominasikan dua daerah unggulan untuk masuk dalam Jejaring Kota Kreatif UNESCO atau UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027.
‎
‎Kementerian Ekonomi Kreatif / Badan Ekonomi Kreatif (Kemen Ekraf) menetapkan Kabupaten Bantul, DIY dan Kota Padang, Sumatera Barat sebagai wakil Indonesia.
‎
Bantul diusulkan untuk subsektor Crafts and Folk Art (Kriya dan Seni Rakyat), sementara Padang diusulkan untuk subsektor *Gastronomy (Gastronomi).
‎
‎Penetapan ini diumumkan Kemen Ekraf dalam siaran pers resmi tanggal 4 November 2026 di Jakarta.
‎
‎Proses seleksinya tidak main-main. Kemen Ekraf menyebut seleksi nasional berlangsung objektif dan independen, mulai dari seleksi administrasi, penilaian substansi, hingga presentasi dossier di hadapan Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) yang melibatkan 5 tim pengarah dan 7 tim seleksi ahli.
‎
Menteri Ekonomi Kreatif / Kepala Badan Ekraf, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa nominasi ini bukan sekadar mengejar sertifikat internasional.
‎
‎”Kementerian Ekraf ingin terus mendampingi sehingga tidak berhenti sebatas nominasi. Ini harus mempunyai dampak ekonomi, termasuk dalam membuka lapangan kerja dan meningkatkan kontribusi terhadap PDRB daerah. Sebab kumpulan dari PDRB daerah akan menjadi PDB nasional,” ujar Teuku Riefky.
‎
‎Teuku Riefky menambahkan, Kemen Ekraf bersama Panselnas akan mendampingi penuh penyempurnaan dossier, penguatan publikasi media lokal dan internasional, hingga membangun jejaring global lewat Kementerian Luar Negeri.
‎
‎”Kami akan terus memperkuat dossier yang sudah disusun, sekaligus memfasilitasi Kabupaten Bantul dan Kota Padang untuk membangun jejaring dengan anggota UCCN melalui koordinasi bersama Kementerian Luar Negeri,” tegasnya.
‎
‎Mengapa Bantul dan Padang?
‎
‎1. Kabupaten Bantul – Kekuatan Kriya Sejak Abad 16
‎Bantul punya ekosistem kriya bernilai sejarah sejak era Kerajaan Mataram Islam abad ke-16. Materialnya alami: bambu, pandan, eceng gondok, pelepah pisang, kayu, batu, dan kulit dengan pendekatan ekonomi sirkular.
‎
‎Nilainya sudah mendunia, ekspor menembus 38 negara dengan nilai USD 6,71 juta. Hebatnya, lebih dari 45 persen perajinnya adalah perempuan dan membuka ruang bagi penyandang disabilitas.
‎
‎”Kami berkomitmen untuk memperbaiki hal-hal yang masih belum sempurna, terutama memperkuat ekosistem kreatif di Kabupaten Bantul yang memang sudah terbangun cukup lama,” ungkap Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih.
‎
2. Kota Padang – Kekuatan Gastronomi Mendunia
‎Kota Padang menonjolkan gastronomi hasil akulturasi sejarah perdagangan rempah dan harmoni multietnis Minangkabau, Tionghoa, India, dan Nias.
‎
‎Tradisi seperti makan bajamba, manatiang piriang, dan teknik marandang menjadi warisan budaya. Ekosistemnya menyerap lebih dari 53 ribu tenaga kerja dan sudah menembus pasar ekspor bumbu internasional, didukung Sentra Rendang dan Bagindo Aziz Chan Youth Center.
‎
‎”Kami sangat bersyukur hari ini. Menjadi salah satu nominasi untuk mengajukan kepada UNESCO Creative Cities Network bukan hal yang mudah. Tentu harus ada strategi penyusunan dossier yang bisa menerjemahkan potensi dan kekayaan Kota Padang,” tutur Wali Kota Padang, Fadly Amran.
‎
‎Proses selanjutnya, pendampingan dan finalisasi dossier akan berlangsung November-Desember 2026 sebelum diunggah ke Sekretariat UCCN di Paris pada awal 2027. Pengumuman resmi dari UNESCO diperkirakan Oktober 2027.
‎
‎Saat ini, Indonesia telah memiliki tujuh kota anggota UCCN, yaitu Pekalongan (2014), Bandung (2015), Ambon (2019), Jakarta (2021), Surakarta (2023), Ponorogo (2025), dan Malang (2025).
‎

‎Dengan Bantul dan Padang, Indonesia berharap menambah daftar kota kreatif dunia dengan semangat local heroes go national, national champions go global.
‎
(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *