Rakyatmerdekanews.co.id, Purworejo – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan. Di tengah perubahan tersebut, guru dituntut mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti profesinya.
Pesan itu disampaikan Wakil Ketua PGRI Provinsi Jawa Tengah, Dr. Hj. Sri Suciati, M.Hum., saat membuka Konferensi Kerja Kabupaten (Konkerkab) II PGRI Kabupaten Purworejo Masa Bakti XXII Tahun 2026 di Gedung PGRI Kabupaten Purworejo, Sabtu (4/7/2026).
Menurut Sri Suciati, guru masa kini harus memiliki kemampuan menguasai teknologi (high tech), namun tetap mengedepankan sentuhan kemanusiaan (high touch).
”AI mampu memberikan informasi secara cepat, tetapi tidak dapat menggantikan empati, keteladanan, serta kasih sayang yang dimiliki seorang guru,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi PGRI Kabupaten Purworejo yang dinilai berhasil menyelenggarakan Konkerkab tepat waktu sesuai amanat AD/ART organisasi. Purworejo bahkan masuk dalam 10 besar kabupaten/kota di Jawa Tengah yang paling awal melaksanakan konferensi kerja setelah tingkat provinsi.
Menurutnya, ketepatan waktu tersebut mencerminkan tata kelola organisasi yang sehat, aktif, dan profesional. Selain itu, kedisiplinan dalam memenuhi kewajiban organisasi, termasuk pembayaran iuran anggota, menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan berbagai program PGRI.
Sri Suciati menambahkan, PGRI Jawa Tengah terus memperkuat kemandirian organisasi melalui sejumlah unit usaha, di antaranya Bank Guru Jawa Tengah, Hotel PGRI, Majalah Derap Guru, Yayasan Dana Setia Kawan Guru, serta biro perjalanan umrah dan haji.
Sementara itu, Ketua PGRI Kabupaten Purworejo, Irianto Gunawan, S.Pd., menjelaskan bahwa Konkerkab II diikuti sebanyak 146 peserta yang terdiri atas pengurus cabang kecamatan, pembina, pakar, perangkat organisasi, dan pengurus kabupaten.
Ia menyampaikan sejumlah capaian organisasi selama tahun 2025, salah satunya penataan administrasi keanggotaan yang semakin tertib setelah banyak guru berstatus PPPK. Data keanggotaan yang akurat dinilai penting untuk mendukung program perlindungan dan pengembangan profesi guru.
Untuk periode 2025–2030, PGRI Purworejo menargetkan peningkatan kemandirian organisasi melalui pembangunan pusat kegiatan di atas lahan milik sendiri. Selama ini, Gedung PGRI Kabupaten Purworejo masih berdiri di atas tanah milik Pemerintah Kabupaten Purworejo.
Rencana pengembangan aset tersebut meliputi pembangunan gedung serbaguna, ruang rapat, fasilitas olahraga seperti lapangan bulu tangkis dan tenis, hingga homestay untuk mendukung kegiatan organisasi maupun pendidikan.
Untuk merealisasikan program tersebut, PGRI Purworejo menghimpun dana sukarela dari anggota penerima Tunjangan Profesi Guru (TPG) sebesar Rp20 ribu per bulan selama 25 bulan. Hingga Juni 2026, dana yang terkumpul dalam rekening bersama secara transparan telah mencapai Rp389,7 juta.
Selain itu, organisasi juga tengah menyiapkan inovasi ekonomi produktif melalui peluncuran produk air minum dalam kemasan sebagai salah satu sumber pendapatan organisasi agar tidak hanya bergantung pada iuran anggota.
Di bidang perlindungan profesi, PGRI Purworejo resmi menjalin kerja sama dengan tim advokat dari Universitas Muhammadiyah Purworejo. Kerja sama tersebut bertujuan memberikan pendampingan hukum bagi anggota yang menghadapi persoalan terkait tugas profesinya.
”Guru harus merasa aman ketika menjalankan tugasnya,” tegas Irianto.
Dalam kesempatan itu Kepala dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purworejo Yudhie menegaskan bahwa PGRI merupakan mitra strategis pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
“PGRI bukan hanya organisasi profesi, tetapi juga wadah perjuangan, perlindungan, dan ruang diskusi inovasi pendidikan. Kolaborasi yang telah terjalin dengan baik harus terus dipertahankan dan ditingkatkan demi memajukan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Purworejo,” pungkasnya.(Kun)
Guru Tak Bisa Digantikan AI, Pesan Tegas PGRI Purworejo Ini Jadi Sorotan





