Rakyatmerdekanews.co.id, Tangsel – Kepala SMP Negeri 10 Tangerang Selatan (Tangsel), Kunardi, mengungkapkan kronologi dugaan perundungan yang melibatkan sejumlah siswi di sebuah warung kopi (warkop) di kawasan Jalan WR Supratman, Kelurahan Rengas, Kecamatan Ciputat Timur, Tangerang Selatan.
Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (9/10/2026) malam. Berdasarkan hasil penelusuran internal sekolah bersama tim Bimbingan Konseling (BK), para pelajar yang terlibat diketahui tergabung dalam kelompok pertemanan yang mereka sebut sebagai geng The Ladies.
Kelompok tersebut terdiri dari siswi kelas VIII dan kelas IX.
“Secara hasil penelusuran, mereka mengistilahkannya dengan geng The Ladies. Ada The Ladies angkatan kelas IX, The Ladies angkatan kelas VIII,” kata Kunardi saat memberikan keterangan di SMPN 10 Tangsel, Senin (26/10/2026).
Kunardi menjelaskan, para siswi tersebut sebelumnya telah merencanakan pertemuan di sebuah warkop untuk mengadakan permainan bersama.
“Mereka sudah janjian seminggu sebelumnya, mau kumpul di sebuah tempat warkop. Kemudian mereka mau mengadakan game seru-seruan,” ujarnya.
Namun, kegiatan yang awalnya dimaksudkan sebagai permainan untuk bersenang-senang itu justru berujung pada tindakan yang membahayakan. Sejumlah siswi diduga dipaksa meminum cairan racikan yang disiapkan oleh rekan mereka sendiri.
Kunardi menilai tindakan tersebut telah melampaui batas dan berpotensi membahayakan kesehatan para pelajar.
“Walaupun secara sudut pandang saya sebagai orang dewasa, memang itu sudah melampaui batas dan membahayakan,” tuturnya.
Terungkap dari Laporan Orang Tua
Kasus tersebut pertama kali diketahui pihak sekolah setelah salah satu orang tua siswi kelas VIII melaporkan kondisi anaknya yang mengalami sakit usai mengonsumsi minuman racikan tersebut.
Laporan itu kemudian menjadi awal bagi pihak sekolah untuk menelusuri kejadian yang melibatkan sejumlah siswi tersebut.
“Awal mula saya dapat informasi itu dari salah satu orang tua kelas VIII, mengadukan kalau anaknya sakit, katanya habis dicekoki minuman racikan,” ungkap Kunardi.
Pihak sekolah selanjutnya melakukan penelusuran internal bersama tim BK untuk mengetahui kronologi dan keterlibatan para pelajar dalam peristiwa tersebut.
Kasus ini menjadi perhatian terhadap pentingnya pengawasan pergaulan pelajar serta edukasi mengenai batasan perilaku dalam pertemanan.
Kegiatan yang dikemas sebagai permainan sekalipun tidak boleh melibatkan paksaan atau tindakan yang dapat membahayakan keselamatan orang lain. (Ratna)






