Dari Tebuireng Menggagas 10 Ribu Doktor Santri NU

LANGKAH saya menyusuri lorong-lorong sejarah di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, bukan sekadar rihlah spiritual, melainkan sebuah ikhtiar mendasar untuk membangkitkan kembali raksasa intelektual yang selama ini tertidur di balik dinding-dinding pesantren. Di tanah yang menjadi rahim pergerakan Nahdlatul Ulama ini, saya menyadari betapa besarnya potensi tradisi keilmuan Islam berbasis turats yang telah menghidupi sanubari jutaan santri selama berabad-abad. Namun tantangan abad ke-21 menuntut kita untuk tidak hanya bertahan pada benteng tradisi keagamaan semata, melainkan melompat lebih jauh menuju pusat peradaban ilmu pengetahuan modern. Dari titik sakral inilah gagasan saya untuk mencetak 10 ribu Doktor santri NU saya canangkan sebagai komitmen nyata untuk mengakselerasi kualitas sumber daya manusia Nahdliyin agar mampu memimpin perubahan di tingkat nasional maupun global.

​Gagasan ini berawal dari momen silaturahmi yang hangat dan sarat makna seusai saya dan rombongan menghadiri Seminar Nasional dan Bedah Buku Memoar William Soeryadjaya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, di mana ide tersebut kemudian saya sampaikan langsung kepada Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng yang juga Ketua Umum PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Kehadiran tokoh-tokoh kunci dari lintas sektor, mulai dari akademisi unggulan seperti Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan hingga tokoh dunia usaha nasional seperti Komisaris Utama PT Saratoga Investama Sedaya Edwin Soeryadjaya, memberikan sinyal kuat bahwa Megaproyek Saya Mencetak 10 Ribu Doktor Nahdliyin ini tidak berdiri di ruang hampa. Di tengah jamuan nasi kebuli yang penuh keakraban, saya menyaksikan bagaimana visi pendidikan masa depan NU dipandang secara serius dan penuh optimisme oleh para pemangku kepentingan utama, menegaskan bahwa santri memiliki hak dan kapasitas yang sepadan untuk melangkah ke puncak tertinggi panggung akademis ilmiah dunia.

​Gus Kikin selaku Ketua Umum PBNU memberikan sambutan yang sangat positif terhadap ide besar yang saya lontarkan ini, dengan menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk membuktikan kepada dunia bahwa anak-anak pesantren memiliki daya saing yang tak kalah hebat dibanding kelompok mana pun. Restu dan kesiapan beliau untuk segera menindaklanjuti program ini setelah penyelesaian proses administrasi kepemimpinan di PBNU menjadi angin segar sekaligus dorongan moral yang sangat kuat bagi saya. Jika kita cermati dalam ruang diskursus keilmuan, upaya Menakar Ide Saya Lahirkan 10 Ribu Doktor Santri NU berfokus pada transformasi pesantren dari sekadar tempat mengaji dalam pengertian sempit menjadi pusat inkubasi intelektual yang melahirkan para ahli di bidang sains, teknologi, hukum, ekonomi, hingga kebijakan publik. Melalui penguatan kualitas pendidikan tinggi hingga jenjang doktoral, kita sedang meletakkan fondasi utama untuk membangun kedaulatan berpikir dan kemandirian bangsa yang dihela oleh para sarjana berjiwa santri.

​Keberhasilan mewujudkan gerakan besar ini memerlukan kuncian strategis berupa kemitraan erat antara tiga pilar utama: pesantren sebagai basis tradisi dan keumatan, perguruan tinggi sebagai pusat riset dan penggodokan akademis serta dunia usaha sebagai penopang keberlanjutan ekonomi. Dukungan nyata yang disampaikan oleh Edwin Soeryadjaya melalui pengalokasian dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari jaringan perusahaan Saratoga memberikan kepastian bahwa kendala finansial dapat diurai secara profesional dan sistematis. Sinergi ini merupakan bentuk nyata dari Ambisi Saya Membangun SDM NU. Target 10 Ribu Doktor, di mana dunia industri tidak lagi menempatkan CSR sebagai kegiatan karitatif formalitas semata, melainkan sebagai investasi sosial jangka panjang untuk mencetak SDM unggul yang kelak akan memajukan perekonomian nasional secara inklusif.

​Lebih jauh dari sekadar program beasiswa doktoral, diskusi di Tebuireng tersebut juga membuka cakrawala berpikir kita mengenai penguatan kemandirian ekonomi umat berbasis komunitas NU yang berjumlah lebih dari 125 jiwa. Sebagaimana simulasi rasional yang diutarakan oleh Edwin Soeryadjaya, potensi finansial yang sangat besar dari iuran gotong royong warga Nahdliyin jika dikelola secara terorganisasi dan transparan akan mampu menopang proyek-proyek peradaban berskala megah. Keinginan untuk mendorong berdirinya Rumah Sakit NU bertaraf internasional hingga revitalisasi Bank Nusumma di bawah manajemen profesional NU adalah bukti nyata bahwa Megaproyek Saya Mencetak 10 Ribu Doktor NU nantinya akan langsung ditampung oleh ekosistem lembaga profesional yang kuat. Kita tidak hanya mencetak ribuan doktor untuk sekadar meraih gelar, tetapi juga menyiapkan medan pengabdian yang konkret agar keahlian mereka terpancar dalam wujud layanan kesehatan, lembaga keuangan dan pusat riset yang mandiri.

​Dukungan akademis yang ditegaskan oleh Prof. Noorhaidi Hasan semakin mengukuhkan keyakinan saya bahwa kampus-kampus keagamaan dan umum siap menjadi jembatan bagi para santri untuk menembus batas-batas akademis internasional. Kita harus merancang skema pendampingan yang terstruktur sejak dini di pesantren, mulai dari penguasaan bahasa asing, penyusunan riset berkualitas, hingga metodologi ilmiah modern, sehingga para santri tidak canggung saat memasuki iklim akademis di perguruan tinggi bereputasi tinggi. Integrasi antara kedalaman pemahaman sains-agama khas pesantren dengan ketajaman analisis ilmiah modern akan melahirkan profil doktor yang unik. Dengan demikian bahwa sosok intelektual harus rasional dan kritis, namun tetap memiliki kerendahan hati dan keteguhan akhlak (akhlakul karimah).

​Strategi pencetakan 10 ribu doktor ini juga berfungsi sebagai jawaban nyata atas ketimpangan distribusi SDM berpendidikan tinggi yang selama ini masih belum merata di berbagai sektor vital kebangsaan. Saya merindukan masa depan di mana para pengambil kebijakan publik, peneliti utama di lembaga riset nasional, CEO di perusahaan multinasional, hingga ilmuwan penemu teknologi baru adalah orang-orang yang tumbuh dari rahim tradisi santri. Langkah ini merupakan fondasi utama Menuju Era 10 Ribu Doktor Santri NU untuk Bangsa Indonesia, di mana ribuan doktor santri yang tersebar di berbagai lini strategis siap mengawal arah pembangunan nasional agar senantiasa berpijak pada nilai-nilai kebebasan berpikir, keadilan sosial, dan kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia.

​Langkah dari Tebuireng ini pada akhirnya adalah sebuah panggilan sejarah yang menuntut komitmen, konsistensi, dan kerja keras terukur dari seluruh elemen Nahdliyin dan mitra strategisnya. Saya meyakini gagasan sebesar ini tidak boleh berhenti pada ruang-ruang diskusi atau sekadar menjadi wacana manis di media massa, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk peta jalan (roadmap) pendidikan yang berjangka panjang dan memiliki indikator keberhasilan yang jelas. Ekosistem pendidikan pesantren yang tersebar di pelosok Nusantara merupakan modal sosial luar biasa yang siap kita konsolidasikan untuk menjaring bibit-bibit unggul santri berprestasi dari seluruh penjuru negeri.

​Dengan optimisme yang meluap dan niat tulus untuk mengabdi pada agama dan bangsa, saya meyakini bahwa era baru kepemimpinan intelektual santri sedang kita jemput dari Tebuireng. Program 10 ribu doktor santri NU ini akan menjadi legacy berharga bagi generasi mendatang, membuktikan bahwa dari balik tirai pesantren, lahir para cendekiawan kelas dunia yang siap menuntun Indonesia menuju masa depan yang terang benderang, berdaulat dan berkeadilan.(*)

 

​Oleh: Fadhil As. Mubarok | CEO & Chairman of MUBAROK INSTITUTE

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *