Oleh: Fadhil As. Mubarok
SAAT malam pengkhianatan hampir merenggut cahaya,
Tuhan telah menyingkap nyamuk dalam selimut istana.
Aib tergelar di hadapan jelata yang berduka,
Menyingkap topeng kelam yang lama bertakhta.
Nyamuk-nyamuk berbulu domba mengisap darah pertiwi,
Menikmati madu kekuasaan di balik dinding sunyi.
Kini kebohongan terburai kebenaran mulai berdiri,
Diadili nurani zaman yang tak lagi bisa didustai.
Di kamar sunyi penghuni tempat janji-janji diuji,
Harapan berpijar membawa angin pemulihan diri.
Kini pertiwi memanggil putera terbaiknya untuk kembali,
Menyembuhkan luka bangsa yang tergores di sanubari.
Sang penjaga panji melangkah pasti berwibawa tegas,
Menghapus kelam membuat kembali keadilan berbekas.
Membersihkan duri dalam daging tanpa ada cemas,
Menjadikan marwah institusi kembali murni dan berhias.
Suyudi kini nakhoda baru penegak hukum,
Yang membersihkan institusi dari noda dan gulita malam.
Membawa Polri bangkit kembali berdiri tegak di atas asa,
Melindungi rakyat jelata mengawal keadilan bagi Indonesia.#
Aib Tergelar di Hadapan Jelata yang Berduka, Menyingkap Topeng Kelam yang Lama Bertakhta




