Rakyatmerdekanews.co.id, Denpasar – Keterlibatan masyarakat lokal menjadi salah satu aspek dalam pengelolaan lanskap Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.
Melalui fasilitas pembibitan tanaman atau nursery di Fish Bone Park, sebanyak 64 persen tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan perawatan tanaman tercatat berasal dari Desa Serangan, Bali.
Keterlibatan warga lokal tersebut berjalan seiring dengan pengembangan lanskap kawasan yang membutuhkan pembibitan, pemeliharaan, dan penanaman vegetasi secara berkelanjutan.
Berdasarkan siaran pers BTID dengan data per 11 September 2026, nursery Kura Kura Bali merawat 25.941 tanaman dari 83 spesies. Koleksi itu terdiri atas 57 jenis tanaman perdu (shrub) dan 26 jenis pohon (tree).
Para pekerja terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari proses pembibitan hingga perawatan tanaman. Mereka tergabung melalui tiga mitra kerja, yaitu CAREFAST, KKBP, dan PERKASA.
Dua pekerja asal Desa Serangan, Astini dan Dayu, menjelaskan bahwa aktivitas kerja mereka dimulai sejak pukul 08.00 WITA, dengan pekerjaan yang mencakup pembibitan dan pemeliharaan tanaman di nursery.
“Kami mulai bekerja dari jam 8 pagi. Iya, kegiatannya mulai dari pembibitan sampai perawatan tanaman, semuanya dilakukan di sini,” tutur mereka.
Kebutuhan Tanaman Meningkat Seiring Perluasan Lanskap
Pengembangan nursery tidak terlepas dari bertambahnya luasan lanskap di KEK Kura Kura Bali. Perusahaan mencatat luas lanskap kawasan pada 2026 mencapai sekitar 240.379 meter persegi, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan 2023.

Jumlah pohon dan tanaman perdu di dalam kawasan juga dilaporkan mencapai sekitar 737.441 tanaman pada 2026, dibandingkan sekitar 177.000 tanaman pada 2023.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, nursery berfungsi sebagai fasilitas pembibitan internal yang menyiapkan tanaman sesuai tahapan pertumbuhan dan kebutuhan penanaman.
Dari total 25.941 tanaman yang tersedia, sebanyak 14.674 masih berada pada fase semai, 10.746 pada fase sapih, dan 521 tanaman telah berstatus siap tanam (ready to plant).
Komposisi ini memperlihatkan bahwa sebagian besar koleksi tanaman masih menjalani proses pembibitan dan pembesaran sebelum digunakan untuk mendukung pengembangan lanskap.
Tanaman Pesisir dan Vegetasi Bali Dibudidayakan
Koleksi nursery mencakup berbagai spesies dengan fungsi berbeda dalam pembentukan lanskap. Beberapa tanaman dengan jumlah populasi besar antara lain Cendrawasih (Phyllanthus myrtifolius) sebanyak 3.889 tanaman, Kenyeri (Nerium oleander) sebanyak 2.764 tanaman, serta Selada Laut (Scaevola taccada) sebanyak 2.475 tanaman.
Nursery juga membudidayakan sejumlah tanaman yang dikenal dalam vegetasi Bali dan lingkungan pesisir tropis, seperti widuri (Calotropis gigantea), jepun (Plumeria pudica), jempiring (Gardenia jasminoides), dan andong (Cordyline fruticosa).
Keragaman tanaman tersebut disiapkan dengan mempertimbangkan karakter lanskap, fungsi vegetasi, kebutuhan area, dan kesesuaian tanaman dengan kondisi lingkungan.
Pengolahan Sampah Organik Dukung Pemeliharaan Tanaman
Selain pembibitan, pengelolaan lingkungan di kawasan juga terhubung dengan Island Compost Center (ICC) yang berada di Fish Bone Park.
Fasilitas tersebut mengolah sampah organik menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung pengelolaan media tanam dan pemeliharaan vegetasi.
Kepala Departemen Komunikasi BTID, Zefri Alfaruqy, mengatakan pengembangan lanskap dilakukan dengan mengintegrasikan kebutuhan kawasan, pengelolaan lingkungan, dan keterlibatan masyarakat sekitar.
“Pengembangan lanskap KEK Kura Kura Bali kami jalankan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Lewat Nursery dan pemanfaatan kompos dari Island Compost Center (ICC), Nursery ini menjadi simbol bagaimana pertumbuhan kawasan dapat berjalan seiring dengan kelestarian lingkungan dan manfaat bagi komunitas sekitar,” ujar Zefri.
Menurut perusahaan, keberadaan nursery dan ICC menjadi bagian dari pendekatan pengelolaan sumber daya yang menghubungkan pengolahan sampah organik dengan pemeliharaan tanaman.
Ke depan, fasilitas pembibitan tersebut akan dikembangkan mengikuti kebutuhan lanskap kawasan. Di sisi lain, keterlibatan tenaga kerja Desa Serangan menjadi bagian dari operasional yang membuka kesempatan bagi masyarakat lokal untuk berpartisipasi dalam kegiatan pemeliharaan lingkungan.
Data mengenai persentase tenaga kerja lokal dan jumlah tanaman dalam pemberitaan ini bersumber dari siaran pers BTID. Informasi tersebut belum mencakup rincian jumlah pekerja secara keseluruhan maupun nilai ekonomi yang diterima masyarakat dari keterlibatan dalam operasional nursery. (chan/skr)






