Gerakan Sejuta Santri Menanam Sorgum, Mengintegrasikan Potensi Pesantren Membangun Kemandirian Pangan

Rakyatmerdekanews,co.id, Depok – Gerakan Sejuta Santri Menanam Sorgum resmi digulirkan sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan berbasis pesantren. Sorgum merupakan tanaman serbaguna asal benua Afrika yang dinilai sangat cocok ditanam di Indonesia. Sehingga sangat cocok ditanam di tanah Indonesia, pemerintah sudah menyediakan bibit Sorgum untuk 20.000 hektare. Target gerakan dan delegasikan pesantren ambil peran untuk ketahanan pangan, dapat juga dijadikan pakan ternak serta bahan baku industri. Hal ini diungkap Ketua Umum Kopontren Suryansyah di Pondok Pesantren MDI, Depok, Selasa (20/10/2026).

Tambahnya, gerakan Sejuta Santri Tanam Sorgum, Program ini mengintegrasikan potensi pesantren guna membangun kemandirian pangan.

Kegiatan juga dihadiri pejabat Pemda Depok, Kemenag RI, Kementerian Koperasi, Kementerian Pertanian, serta para santri, alumni dan pengasuh pondok pesantren. Tema yang diangkat: Budi daya dan Pemuliaan Benih Sorgum, Sistem Pesantren Digital (Sitrendi) dan Pesantren Prakerja Mandiri, Adaptif dan Kolaboratif.
‎
‎Digitalisasi menjadi salah satu langkah yang didorong Koperasi Pondok Pesantren Indonesia (Kopontren ID) untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan lembaga pendidikan sekaligus memperkuat kegiatan ekonomi pesantren.
‎
‎Upaya tersebut diwujudkan melalui pengembangan Sistem Pesantren Digital (Sitrendi), yang dirancang untuk mendukung administrasi, pengelolaan keuangan, pembelajaran, dan jejaring bisnis koperasi. Program ini dibahas dalam rangkaian kegiatan Kopontren ID di Pesantren Al-Hikam, Depok, Jawa Barat, pada 19–20 Oktober 2026.
‎
‎Sekretaris Jenderal Kopontren Indonesia, Bobby Arvian James, menyampaikan penguatan ekonomi pesantren perlu ditopang pemanfaatan potensi lokal dan pengembangan teknologi.
‎
‎Dalam sektor pertanian, sorgum menjadi salah satu komoditas yang dikembangkan karena berpotensi diolah menjadi berbagai produk pangan. Pengembangannya mencakup budidaya, penanganan pascapanen, hingga pengolahan produk seperti beras sorgum, tepung, dan makanan olahan.
‎
‎Pada tahap awal, program sorgum direncanakan melibatkan jejaring 10 wilayah pesantren sebagai percontohan. Keterlibatan koperasi dan pelaku usaha diharapkan dapat menghubungkan kegiatan produksi dengan kebutuhan pasar.
‎
‎Sementara itu, Pesantren Prakerja diarahkan untuk membekali santri dengan keterampilan sesuai kebutuhan dunia usaha, termasuk peluang kerja internasional. Untuk mencapai sasaran tersebut, pelatihan perlu didukung kurikulum yang relevan, sertifikasi kompetensi, penguasaan bahasa, serta pemahaman prosedur penempatan kerja.
‎
‎Penerapan Sitrendi juga membutuhkan kesiapan sumber daya manusia, infrastruktur, keamanan data, dan pendampingan bagi pengelola pesantren.

‎Rangkaian kegiatan di Pesantren Al-Hikam turut membahas pengolahan dan hilirisasi sorgum, peluang ekspor, serta energi baru dan terbarukan. Pembahasan ini membuka ruang kolaborasi antara pesantren, pemerintah, akademisi, koperasi, dan pelaku industri.
‎
‎Dengan indikator yang terukur, digitalisasi dan pemberdayaan ekonomi pesantren diharapkan dapat berkembang menjadi program berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi lembaga pendidikan, santri, dan masyarakat sekitar.
‎‎(Red)
‎

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *