Rakyatmerdekanews.co.id, JAKARTA – Pernyataan terbuka Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam sebuah wawancara eksklusif dengan beberapa jurnalis senior di stasiun televisi nasional TV One, Rabu malam, 16/9/2026 kembali menggugah kesadaran kolektif kita tentang esensi sejati kepemimpinan publik.
Dalam pandangan beliau, hidup di dunia ini tidak pernah lepas dari risiko, dan seorang pemimpin sejati mutlak harus memiliki keberanian untuk mengambil risiko (risk taker), berjiwa besar dalam menerima kritik, terbuka untuk memberikan koreksi yang membangun, serta mendedikasikan diri sepenuhnya sebagai pelayan masyarakat.
Pernyataan visioner ini memberikan teladan nyata bahwa transparansi dan akuntabilitas tidak cukup hanya berhenti sebagai dokumen di atas kertas, melainkan harus dihidupkan melalui mentalitas kepemimpinan yang tahan uji dan siap berbenah.
Refleksi Penegakan Hukum: Integritas dan Akuntabilitas
Menilik arah kebijakan dan komitmen yang selalu dikampanyekan oleh jajaran pimpinan Mahkamah Agung (MA) serta badan peradilan di bawahnya — yang secara konsisten mengusung nilai-nilai Integritas, Akuntabilitas, Transparansi, dan Akhlak Mulia — pertanyaan mendasarnya adalah: Sejauh mana nilai-nilai luhur tersebut mewujud dalam tindakan nyata di lapangan?
Sebagai garda terdepan keadilan (the temple of justice), institusi peradilan memegang mandat konstitusional yang sangat berat. Oleh karena itu, pengujian atas komitmen pimpinan MA dan peradilan saat ini dapat dilihat dari beberapa indikator krusial:
Keterbukaan atas Kritik dan Evaluasi:
Pimpinan peradilan yang berintegritas tinggi tidak boleh anti-kritik. Kritik dari masyarakat maupun insan pers harus diposisikan sebagai “vitamin” penyehat institusi, bukan sebagai ancaman yang harus dibungkam.
Keberanian Menindak Tegas Pelanggaran Internal:
Kepemimpinan yang berani mengambil risiko berarti tidak ragu-ragu untuk membersihkan internal peradilan dari oknum-oknum yang mencederai marwah peradilan, demi menjaga kepercayaan publik (public trust).
Pelayanan Publik yang Humanis dan Berkeadilan:
Sesuai semangat menjadi pelayan masyarakat, birokrasi peradilan harus benar-benar berorientasi pada kemudahan akses keadilan bagi masyarakat pencari keadilan tanpa diskriminasi.
Komitmen FORSIMEMA-RI
Sebagai wadah berhimpunnya para jurnalis yang mendedikasikan diri mengawal lembaga peradilan, FORSIMEMA-RI menyambut baik setiap langkah positif Mahkamah Agung dalam mewujudkan peradilan yang agung. Kami senantiasa mendorong sinergi yang konstruktif antara Humas Peradilan dan media agar informasi penegakan hukum sampai kepada masyarakat secara objektif, transparan, dan akurat.
Kami percaya, kepemimpinan yang kuat di Mahkamah Agung adalah kepemimpinan yang berani mengambil risiko untuk berubah ke arah yang lebih baik, merangkul keterbukaan, dan membuktikan bahwa integritas serta akhlakul karimah adalah panglima tertinggi dalam memutus perkara dan melayani rakyat. (Red)






