Rakyatmerdekanews.co.id, Bogor – Polemik panjang yang melibatkan Keluarga Besar Direksi Asli PT. Javana Artha Buana (PT. JAB) dengan lawannya Perumda Pasar Tohaga Kabupaten Bogor yang ditunggangi Hartono dan Sugirus bersaudara (CS), rupanya belum juga berakhir dan masih berlanjut secara hukum di kedua kubu yang berseteru.
Dugaan terbaru mencuat setelah media ini mendapatkan informasi dari Kuasa Direksi PT. Javana Artha Buana (PT. JAB), Rony Pasanea, pada Sabtu malam (25/7/2026).
Rony menyampaikan, beberapa hari lalu pihaknya menerima informasi bahwa pihak lawan, Hartono CS beserta jajaran Perumda Pasar Tohaga, akan melibatkan Bupati Bogor Rudy Susmanto. Dugaan itu untuk memperkuat upaya mereka membajak serta menguasai seluruh potensi income Pasar Citeureup 2.
”Atas informasi yang kami terima seperti itu, ya silakan saja. Kami anggap hal itu wajar, bagi seseorang yang punya banyak uang seperti Hartono CS, yang mungkin menganggap segalanya bisa mereka atur dengan uang miliknya,” ujar Rony Pasanea.
Rony menuding Hartono CS mendapatkan uang tersebut dari hasil manipulasi hingga rekayasa identitas serta administrasi, dan berbagai cara yang dihalalkannya untuk mengakal-akali Bosnya, Hawanto Candranata selaku Owner/Pemilik asli PT. Javana Artha Buana, demi ambisi menguasai seluruh saham.
Lebih lanjut Rony menyebut, jika benar pihak Hartono CS dengan dukungan penuh jajaran Direksi Perumda melakukan gugatan balik terhadap tuntutan PT. JAB dengan melibatkan Bupati, maka hal itu sama saja mempermalukan diri sendiri karena membela pelaku _Perbuatan Melawan Hukum (PMH)_.
”Pak Bupati pasti tahu dan sadar, bahwa jika dirinya benar-benar melakukan hal tersebut, tetapi hanya berdasar permintaan dan desakan pihak Hartono CS melalui jajaran direksi Perumda Pasar Tohaga, dengan alasan amankan potensi retribusi di pasar tersebut, tanpa menelaah terlebih dahulu mengenai faktor baik buruknya, juga benar salahnya, pada persoalan itu ada di pihak siapa, maka berarti Bupati tak bijaksana atau sembrono dalam melakukan suatu tindakan,” tegasnya.
Rony juga menyoroti pergantian Bupati Bogor sejak awal polemik. Mulai dari era Bupati Rachmat Yasin, Nurhayanti sebagai Plt, Ade Yasin, Iwan Setiawan sebagai Plt, hingga PJ Bupati Asmawa Tosepu sebelum Bupati sekarang. Menurutnya, polemik ini tak kunjung selesai karena pengaruh kecerdikan, akal licik, serta pengaruh uang dari Hartono yang mampu mempermainkan kebijakan di Pemda Kabupaten Bogor.
”Kami ini, yang dirugikan terus menerus, akibat semua permainan licik Hartono CS itu, yang didukung oleh Doni Djatnika dan kawan-kawannya, dalam jajaran Direksi Perumda Tohaga tersebut,” tandas Rony.
Sikap Rony kini tampak lebih percaya diri. Ia mengaku pihaknya sudah mengantongi banyak data dan informasi dari beberapa pihak yang ingin membantu, bahkan ada yang disebut berasal dari orang dalam Perumda sendiri. Namun Rony belum bersedia menyebut nama dan jumlah sumber tersebut.
”Kalau sudah saatnya nanti serta jika kami nilai benar-benar diperlukan itu, pasti akan kami beber kepada rekan-rekan Pers. Semua data hingga informasi lainnya, dari sekitar tahun 2007 hingga awal perseteruan kami, bahkan hingga kini, sesuai progress kasus kami, semua yang kami ketahui, miliki serta kami simpan selama ini, akan kami buka,” pungkas Rony Pasanea.
Guna memenuhi asas berimbang, tim media ini masih terus melakukan upaya konfirmasi kepada pihak terkait, khususnya ke Perumda Pasar Tohaga dan Pemda Kabupaten Bogor. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari Dirut Perumda H. Haris Setiawan, SE. MM., pihak kedinasan terkait, maupun Bupati Bogor Rudy Susmanto. (Eddy)






