Merajut Martabat Seniman dalam Dunia Akademik

Rakyatmerdekanews.co.id, Jakarta – Sesungguhnya pandangan usang jika seni dan pendidikan tinggi ketika sering kali dipandang oleh sebagian orang sebagai dua kutub yang terpisah, di mana yang satu mengandalkan intuisi kreatif dan yang lainnya menuntut ketajaman nalar sistematis.

Namun bagi saya, pandangan tersebut terlalu menyederhanakan hakikat seorang seniman yang sesungguhnya. Seorang seniman akan mencapai puncak kesempurnaan profesinya apabila ia juga merupakan seorang cendekiawan yang membumikan nalar akademis dalam setiap gerak karyanya.

Pendidikan tinggi, mulai dari sarjana hingga jenjang doktoral bukan sekadar pelengkap atribut di belakang nama, melainkan fondasi intelektual yang memberikan kedalaman filosofis dan metodologis bagi seorang seniman untuk melihat dunia dengan kacamata yang lebih luas, kritis dan solutif.

Sebuah kenangan manis sekaligus inspiratif terpancar jelas pada momen wisuda Universitas Airlangga ke-262 baru-baru ini, Sabtu, 20 Juni 2026, ketika keluarga Anang Hermansyah, Ashanty dan Azriel Hermansyah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menuntaskan pendidikan mereka.

Keberhasilan mereka meraih gelar dari magister hingga doktor di tengah padatnya arus kesibukan sebagai tokoh publik adalah bukti konkret bahwa pendidikan adalah sebuah pilihan sadar yang memerlukan ketahanan luar biasa.

Ketika seorang seniman seperti mereka mampu berdiri tegak di podium akademik, mereka sebenarnya sedang mengirimkan pesan fundamental kepada masyarakat bahwa popularitas hanyalah permukaan, sementara substansi intelektual adalah jangkar yang akan menjaga mereka tetap relevan dan berintegritas di tengah dinamika zaman yang terus berubah.

Jika kita menoleh ke belakang, sosok almarhumah sahabat saya, Prof. Assoc. Dr. Marissa Grace Haque, SH., MH., MM., MSi., MBA., MA, adalah prototipe paling utuh dari apa yang saya definisikan sebagai seniman paripurna.

Beliau bukan sekadar bintang film yang memikat hati pemirsa sejak tahun tujuh puluhan hingga akhir hayatnya, melainkan juga seorang intelektual yang memiliki ketajaman berpikir lintas disiplin ilmu yang sangat luas. Dengan sederet gelar akademik yang beliau sandang, Marissa mampu mengintegrasikan dunia seni pertunjukan dengan dunia akademis secara harmonis.

Beliau membuktikan bahwa menjadi seorang figur publik tidak menghalangi seseorang untuk mendalami hukum, manajemen, hingga filsafat pendidikan, bahkan hingga mencapai puncak karier sebagai seorang akademisi yang disegani.

Transformasi seorang seniman menjadi seorang intelektual melalui pendidikan tinggi akan melahirkan karya-karya yang memiliki bobot sosiologis yang lebih kuat.

Ketika seorang seniman mendalami pendidikan tinggi, mereka tidak lagi hanya berupaya menghibur penonton, tetapi juga berupaya mengartikulasikan keresahan masyarakat melalui pendekatan berbasis riset dan data. Inilah yang saya sebut sebagai keberpihakan intelektual; di mana seni digunakan bukan hanya untuk memuaskan estetika, melainkan sebagai alat untuk menyampaikan gagasan-gagasan besar tentang keadilan, kesejahteraan rakyat dan peradaban.

Seniman yang terdidik memiliki kemampuan analitis untuk membedah kompleksitas kebijakan dan menyederhanakannya ke dalam bahasa yang dapat diterima oleh khalayak luas tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Lebih jauh lagi, komitmen untuk terus belajar merupakan sebuah bentuk pengabdian yang melampaui batas-batas gelar akademis itu sendiri.

Seperti yang diungkapkan oleh Anang Hermansyah, bahwa pendidikan bukanlah tentang perolehan ijazah semata, melainkan tentang bagaimana ilmu yang diserap mampu memberikan manfaat nyata bagi orang lain. Semangat “long-life learning” ini adalah nyawa dari seorang intelektual sejati.

Seniman yang menempuh pendidikan tinggi akan selalu berada dalam proses pertumbuhan, di mana mereka terus mempertanyakan, meneliti dan memperbarui cara pandangnya terhadap fenomena sosial. Hal inilah yang membedakan seorang seniman yang hanya mengandalkan bakat dengan seniman yang membangun peradaban melalui kekuatan nalar dan kreativitas yang bersenyawa.

Keterlibatan aktif figur publik dalam dunia akademik seperti yang ditunjukkan oleh keluarga 3A dan sosok inspiratif seperti Marissa Haque memberikan warna baru dalam diskursus pembangunan sumber daya manusia di Indonesia.

Mereka mematahkan stigma bahwa dunia pendidikan tinggi hanyalah milik mereka yang bergelut di menara gading. Sebaliknya, pendidikan tinggi harus menjadi ruang inklusif di mana para praktisi, termasuk seniman dapat mengasah kapasitasnya untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Ketika ruang-ruang kuliah dipenuhi oleh mereka yang memiliki pengaruh di masyarakat, maka diseminasi ilmu pengetahuan akan jauh lebih efektif karena ide-ide yang muncul dari kampus dapat diterjemahkan ke dalam narasi kebudayaan yang lebih mudah dicerna oleh masyarakat umum.

Akhirnya saya percaya bahwa masa depan Indonesia akan sangat ditentukan oleh sejauh mana para pemimpin opini dan seniman kita mampu mengawinkan seni dengan nalar akademis. Sinergi ini akan melahirkan generasi yang tidak hanya mahir dalam olah rasa, tetapi juga cakap dalam olah pikir dan olah tindak.

Seniman yang sempurna adalah mereka yang mampu menyeimbangkan harmoni estetika dengan disiplin intelektual, sehingga setiap karya yang dihasilkan bukan sekadar catatan sejarah tentang popularitas, melainkan warisan pemikiran yang bermanfaat bagi kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Dengan terus mendorong integrasi antara kreativitas seniman dan ketajaman akademis, kita sedang membangun sebuah fondasi bangsa yang lebih kokoh, cerdas dan bermartabat.

Oleh: Fadhil As. Mubarok | Chairman of Mubarok Institute

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *