Kultus Penjilat: Mengemis Narasi di Tengah Hidup yang Tercekik

Rakyatmerdekanews.co.id, Bengkalis Duri – 29 Apri 2026. Sungguh sebuah ironi yang dipelihara dengan rapi. Di saat dapur-dapur rakyat mulai dingin dan kening semakin berkerut memikirkan harga pokok yang melangit, masih saja ada golongan yang sibuk memoles citra penguasa.

Mereka adalah para penjilat ulung, mereka yang menukar akal sehat dengan narasi-narasi kosong, seolah hidup dalam gelembung kedap suara, tuli terhadap rintihan masyarakat yang terjepit di tiga lini utama: perut, dompet, dan keselamatan jalan.

Lucunya, hidup para pemuja ini pun sebenarnya “gitu-gitu aja.” Menjadi tameng pemerintah ternyata tidak otomatis membuat rekening mereka gemuk.

Mereka ikut terjepit, ikut pening, dan ikut merasakan pahitnya tagihan yang mencekik. Namun, entah karena gengsi atau sudah terbiasa dengan pembodohan publik, mereka tetap vokal menyuarakan bahwa “semua baik-baik saja.”

Para penjilat ini mungkin lupa bahwa harga beras medium kini mencekik di kisaran Rp16.000 per kg dan cabai rawit menembus angka Rp62.000. Saat pemerintah sibuk mengklaim “stabilitas”, rakyat di akar rumput justru harus berebut subsidi hanya untuk memastikan piring tidak kosong. Di mana letak keberhasilan jika membeli kebutuhan pokok saja sudah terasa seperti kemewahan?

Begitu juga di sektor lapangan kerja. Mereka membanggakan statistik yang katanya menurun, padahal nyatanya lapangan kerja kian langka dan didominasi sektor informal dengan upah minim, bahkan seringkali menemui skema “tunda bayar”.

Kelas menengah kita menyusut, terperosok ke jurang ekonomi karena upah yang stagnan tak mampu mengejar inflasi. Penjilat ini tetap memuji program hilirisasi, sementara anak muda terdidik luntang-lantung di antara sistem magang tanpa kepastian.

Inilah puncak pembodohan publik yang nyata. Megaproyek infrastruktur yang katanya untuk kesejahteraan dipuja sebagai prestasi, padahal banyak ditemukan jalan serta drainase yang “cacat sejak awal konstruksi”, rusak dan berlubang dalam hitungan bulan.

Sementara itu, jalan-jalan vital di daerah tetap hancur, memaksa warga menggotong jenazah karena kendaraan tak bisa lewat. Infrastruktur ini hanya menjadi monumen beton yang tak bisa dimakan oleh petani yang kebunnya terendam lumpur akibat irigasi buruk.

Berhenti bersikap seolah dunia sedang baik-baik saja. Menjadi penjilat saat ini hanyalah bentuk pengkhianatan terhadap akal sehat dan penghinaan terang-terangan terhadap rakyat yang sedang berdarah-darah bertahan hidup.

Berhentilah memoles borok dengan gincu. Sebab, sedalam apa pun kalian menjilat, aspal yang berlubang tetap akan memakan korban, dan perut yang lapar tidak akan pernah kenyang hanya dengan menelan janji-janji politik yang manis di permukaan.(FN)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *