
Jakarta — Ketegangan gejolak perang di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke sejumlah wilayah di Iran, termasuk ibu kota Teheran.
Serangan ini disebut oleh Presiden AS Donald Trump sebagai “operasi tempur besar-besaran” yang menargetkan kemampuan rudal Iran.
Dilansir melalui kantor berita Aljazeera (28/2/2026), menurut pernyataan resmi, serangan dimulai pada Sabtu pagi waktu setempat.
Israel lebih dulu mengumumkan peluncuran rudal ke Iran, sebelum seorang pejabat AS menyebut operasi tersebut sebagai aksi militer gabungan antara Washington dan Tel Aviv.

Dalam beberapa pekan terakhir, AS diketahui telah mengerahkan armada jet tempur dan kapal perang dalam jumlah besar ke kawasan tersebut mobilisasi militer terbesar sejak invasi Irak pada 2003.
Iran bersumpah akan membalas serangan Israel dengan serangan Paling Dahsyat, Israel langsung panik. Ancaman ini ternyata bukan gertak sambal,
Iran luncurkan serangan balasan ke Israel, tak ayal ledakan terdengar di Haifa, Israel utara, pada Sabtu, 28 Februari 2026, setelah Iran meluncurkan rudal ke arah Israel, menurut laporan media Israel, Ynet.
Dikutip dari Anadolu Agency, peluncuran rudal tersebut merupakan serangan balasan Iran atas gempuran gabungan Amerika Serikat dan Israel hari ini. (Red)




