Rakyatmerdekanews.co.id, Bengkalis Duri – Selasa pagi (5/5/2026), sekitar pukul 08.05 WIB, suasana Jalan Hang Tuah, Kecamatan Mandau yang seharusnya damai berubah menjadi adegan film thriller. Sebuah sepeda motor sukses “disapa” dengan mesra dari belakang oleh truk raksasa yang ukurannya sebesar harapan orang tua.
Dua pengendara motor nyaris saja “pindah alam” dan jadi perkedel di bawah ban truk, kalau saja sang sopir tidak sigap menginjak rem sedalam palung laut. Alhamdulillah, maut masih ogah menjemput, tapi motor korban kini kondisinya lebih mirip rongsokan daripada kendaraan. Kejadian ini kembali menambah daftar panjang drama “raksasa vs semut” di jantung kota Duri.
Proyek Strategis atau Cagar Budaya Tersembunyi? ,Masyarakat Duri-Mandau kini mulai bertanya dengan nada satire yang kental kepada Pemerintah Kabupaten Bengkalis:
“Mana itu Jalan Lingkar Barat yang katanya menelan APBD bermiliar-miliar rupiah?”
Sejarah mencatat, tahap pertama selesai tahun 2019. Tahun 2023, mesin proyek kembali meraung demi melanjutkan jalan alternatif tersebut. Tujuannya mulia: supaya truk kontainer dan tangki tidak perlu lagi masuk ke “ruang tamu” warga di Jalan Hang Tuah.
Namun kenyataannya? Jalan Lingkar Barat yang kabarnya sudah tembus itu kini punya fungsi ganda yang estetik: Wisata Hutan Lindung. Meski izin dari Kementerian LHK dan ESDM disebut sudah kantong sejak 2023, truk-truk besar tampaknya masih lebih betah “reuni” dan “berselancar” di pusat kota bareng motor warga.
Janji bahwa kendaraan berat akan minggir dari kota sepertinya masih tertahan di meja birokrasi yang sangat lengket. Warga mulai skeptis, apakah Dinas PUPR Bengkalis atau instansi terkait butuh upacara pemotongan pita dengan tumbal nyawa yang lebih banyak lagi agar jalan itu diaktifkan sepenuhnya?
“Mungkin pemerintah kita terlalu cinta alam. Jalannya dibangun bukan buat dilewati truk, tapi buat ajang pameran aspal di tengah hutan,” celetuk seorang warga yang masih gemetaran melihat kecelakaan tadi pagi.
Masyarakat Duri sudah kenyang makan janji dan bosan melihat presentasi PowerPoint atau pamer angka APBD miliaran. Warga menagih satu hal sederhana: Aktifkan Jalan Lingkar Barat sekarang juga sesuai janji!
Sangat ironis melihat aspal mulus di tengah hutan sepi dari deru mesin, sementara Jalan Hang Tuah tetap jadi arena adu nyawa. “Kami capek dengar alasan teknis. Kalau sudah rampung, buka! Jangan nunggu masyarakat jadi perkedel satu per satu baru ada gerakan,” tegas seorang warga dengan nada geram.
Publik kini bertanya: Apakah pemerintah sedang menunggu “bisikan gaib” baru berani mengalihkan arus? Warga mendesak Bupati dan dinas terkait segera:
1. Fungsikan total Jalan Lingkar Barat untuk kendaraan berat tanpa tapi, tanpa nanti.
2. Pasang rambu tegas dan tempatkan petugas di pintu masuk kota agar sopir truk tahu diri.
Ingat, kursi kekuasaan dibangun atas kepercayaan rakyat. Jangan sampai kepercayaan itu ringsek dan tak berbentuk, seperti motor korban di Jalan Hang Tuah pagi tadi! (FN)






