Rakyatmerdekanews, Purworejo– Warga Desa Sumbersari,Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo menggelar tradisi kenduri bersama di Sumur Gede, Dusun Sentaan, dalam rangka memperingati merti desa.
Kegiatan yang dilaksanakan, Sabtu(17/10/2026) secara turun-temurun ini menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki sekaligus doa untuk keberkahan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya warga Desa Sumbersari dan sekitarnya.
Suasana kebersamaan tampak begitu kental dalam kegiatan tersebut. Warga dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga sesepuh desa, laki-laki maupun perempuan, berbaur dalam suasana penuh kekeluargaan.
Mereka mengikuti prosesi kenduri sekaligus menikmati hidangan yang disiapkan secara gotong royong oleh warga setempat.
Salah seorang sesepuh Desa Sumbersari, KH Syaiful Anwat, menjelaskan bahwa tradisi merti desa merupakan warisan leluhur yang terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.
Menurutnya, ritual tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun setelah panen musim tanam kedua (MT 2), yang bertepatan dengan musim kemarau atau panen ketiga.
“Setiap usai panen kedua, saat musim kemarau, kami selalu melaksanakan ritual merti desa. Selain kenduri bersama, kami juga menggelar pertunjukan wayang kulit di Punden Blabak, yang berjarak sekitar 300 meter dari Sumur Gede,” ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan kenduri.
Lebih dari sekadar tradisi, kenduri merti desa memiliki makna mendalam bagi kehidupan masyarakat. Kegiatan ini menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi, menjaga kerukunan antarwarga, serta mengingatkan masyarakat agar senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan.
KH Syaiful Anwat juga menjelaskan bahwa keberadaan Sumur Gede memiliki nilai penting bagi warga setempat. Di sekitar sumur tersebut tumbuh pohon beringin yang diyakini turut berperan dalam menjaga ketersediaan air di lingkungan sekitar.
Keberadaan sumur dan pohon beringin tersebut menjadi pengingat akan pentingnya menjaga sumber air dan kelestarian lingkungan, terutama ketika musim kemarau berlangsung cukup panjang.
Ia berharap tradisi kenduri merti desa dapat terus dilaksanakan setiap tahun dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Selain menjaga tradisi, kegiatan tersebut juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk memanjatkan doa agar segera turun hujan sehingga para petani dapat kembali beraktivitas dan mengolah lahan pertanian.
“Semoga ritual kenduri bersama yang dilaksanakan setahun sekali ini tetap berjalan. Insyaallah, meskipun kemarau masih berkepanjangan, kami berharap hujan segera turun sehingga para petani bisa kembali beraktivitas dan bercocok tanam,” pungkasnya.
Melalui tradisi merti desa, warga Sumbersari tidak hanya melestarikan warisan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian terhadap lingkungan serta sumber penghidupan masyarakat.
(KUN)






