RM News, Jakarta – Peristiwa tragis menimpa Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur. Sebuah bangunan empat lantai yang tengah dibangun di kompleks pesantren tersebut roboh dan menimpa ratusan santri yang sedang melaksanakan salat Ashar. Musibah ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga besar pesantren dan masyarakat sekitar.
Sejumlah saksi mata menyebutkan, bangunan tersebut runtuh secara tiba-tiba. Tim SAR gabungan bersama relawan segera diterjunkan untuk melakukan evakuasi korban. Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian masih terus berlangsung.
Menanggapi kejadian tersebut, Kyai Marsudi Syuhud menyampaikan keprihatinan mendalam dan menyerukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Menurutnya, perlu ada evaluasi serius terhadap standar pembangunan di lingkungan pesantren.
“Sejak dulu, santri memang turut berpartisipasi membangun pesantren dengan semangat gotong royong atau roah. Namun, peran santri hanya sebatas membantu saat dibutuhkan tenaga, bukan dalam aspek teknis konstruksi. Pembangunan tetap harus ditangani oleh ahlinya,” ujar Kyai Marsudi.
Ia menekankan pentingnya memperhatikan aspek teknis seperti ukuran besi, perbandingan semen dan pasir, serta kelayakan struktur bangunan. Gotong royong dalam pesantren harus tetap dijalankan, namun profesionalisme dalam bidang pembangunan tidak boleh diabaikan.
Kyai Marsudi juga menyoroti adanya wali santri yang menolak santunan karena menganggap musibah ini sebagai ujian dan ladang pahala. Menurutnya, sikap ikhlas dan sabar memang bagian dari ajaran Islam, namun aspek tanggung jawab dan keselamatan tetap harus menjadi prioritas.
“Islam mengajarkan tawakal dan sabar, tapi juga mengajarkan ikhtiar. Artinya, sebelum pasrah kepada Allah, kita wajib berusaha dan memperhitungkan segala hal dengan ilmu dan perencanaan yang benar,” jelasnya.
Menanggapi tragedi ini, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan kepada jajarannya untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh bangunan pondok pesantren di Indonesia. Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan para santri adalah hal utama dan tidak boleh diabaikan.
“Pemerintah harus hadir memastikan setiap pondok pesantren memiliki konstruksi yang aman dan sesuai standar bangunan. Jangan sampai musibah di Al-Khoziny terulang kembali,” tegas Presiden dalam arahannya.
Tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pihak bahwa semangat keagamaan dan gotong royong perlu diimbangi dengan manajemen dan perencanaan pembangunan yang matang. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pesantren diharapkan dapat memperkuat aspek keselamatan tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur keikhlasan dan kebersamaan.
Di tengah duka mendalam, doa terus dipanjatkan agar para korban mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta kesabaran menghadapi cobaan ini. (Titien/Red)






