Rakyatmerdekanews.co.id, Purworejo -Upaya yang dilakukan Dinas Perpustakaan Umum dan Kearsipan Kabupaten Purworejo (Dinpusip) ini memang patut dicermati sebagai langkah serius dalam pelestarian warisan budaya, khususnya naskah kuno yang sering kali tersebar di tangan pribadi.
Beberapa hal penting dari cerita ini:
Pertama, pendekatan aktif Dinpusip—bahkan sampai mendatangi pemilik naskah ke Kabupaten Cilacap—menunjukkan bahwa pelestarian tidak bisa hanya menunggu laporan, tapi perlu “jemput bola.”
Banyak naskah kuno berada di luar wilayah asalnya, seperti kasus naskah dari Kabupaten Purworejo yang kini dimiliki perorangan di daerah lain.
Kedua, peran individu seperti Wisnu Budi Setiawan sangat krusial. Tanpa kesediaan pemilik untuk meminjamkan atau membuka akses, banyak naskah berisiko hilang atau rusak tanpa pernah diteliti. Sikap terbuka seperti ini jadi contoh penting.
Ketiga, proses alih media (digitalisasi) bukan sekadar “menyalin,” tapi strategi penyelamatan jangka panjang.

Naskah fisik rentan terhadap usia, kelembapan, dan kerusakan, sementara versi digital bisa:
disimpan lebih aman,
diperbanyak tanpa merusak asli,
diteliti oleh lebih banyak pihak.
Keempat, ada potensi besar yang belum tergali. Fakta bahwa pemilik sendiri belum mengetahui isi naskah menunjukkan peluang penelitian—baik dari sisi sejarah lokal, bahasa, maupun budaya.
Kalau dilihat lebih luas, inisiatif seperti ini bisa jadi model bagi daerah lain: kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat untuk menjaga “memori kolektif” bangsa, bukan hanya disimpan, tapi juga dihidupkan kembali melalui kajian dan publikasi.
Kalau kamu tertarik, aku bisa bantu jelaskan juga bagaimana proses alih media naskah kuno biasanya dilakukan secara teknis atau kenapa banyak naskah Nusantara belum terbaca sampai sekarang.(Kun)






