Resonansi ‘Kemerdekaan’

HAL yang dimaksud dengan resonansi adalah adanya “getaran/gerakan/tindakan” (selanjutnya hanya akan disebut getaran) di satu tempat. Namun, karena kehidupan selalu terhubung, maka getaran di satu tempat akan berpengaruh atau membuat getaran di tempat yang lain.

Getaran di tempat lain itu, suatu resonansif, bisa berupa getaran yang baik, dalam pengertian menimbulkan hal-hal baru yang kreatif.

Namun, tidak tertutup kemungkinan getaran di tempat yang lain itu merupakan getaran yang rontok/luruh, sehingga ada proses-proses penghancuran, pembusukan, atau peleburan, untuk membentuk atau menjadi sesuatu yang lain. Kita belum tahu ke mana bentuk yang lain tersebut.

Hal yang menarik dan penting untuk diduga adalah getaran yang mana yang paling berpengaruh?

Tulisan ini membicarakan resonansi “kemerdekaan” (dalam tanda petik, karena maksudnya kemerdekaan dalam pengertian yang masih bermasalah).

Di negeri ini, siapa yang paling merdeka. Yang paling merdeka adalah mereka yang berkuasa, yang kaya, yang mengendalikan aturan dan hukum, yang bisa keluar masuk hukum dan aturan. Tentu dalam beberapa levelnya, mulai dari lurah yang kaya, camat, hingga bupati/walikota, pimpinan perusahaan, gubernur dan menteri, hingga presiden.

Dengan demikian, mereka yang tidak berkuasa dan tidak kaya, tidak akan bisa lebih merdeka daripada yang penguasa dan kaya. Kenapa itu bisa terjdi, karena saya membicarakan kemerdekaan dunia kultural, bukan yang natural.

Artinya, dapat diduga bahwa getaran orang yang berkuasa dan kaya jauh lebih berpengaruh daripada getaran orang kecil (rakyat biasa). Poros dan sirkulasi kehidupan juga memperlihatkan hal itu. Banyak getaran dari rakyat biasa lebih sebagai reaksi dan repons terhadap getaran dari pusatnya.

Getaran apa yang dilakukan oleh para penguasa dan yang kaya? Dan kenapa getaran itu dimungkinkan?

Karena para penguasa yang kaya otomatis lebih merdeka, mereka akan lebih bersikap seenaknya, “lebih berani”, “lebih kreatif”, “lebih bebas”, karena kendali hukum, uang, dan aturan, mereka yang menentukan. Getaran yang mereka buat jauh lebih besar dan banyak. Getaran itu semacam sikap dan tindakan “kemerdekaan”.

Hal itu juga terbukti bahwa para penguasa yang kaya lebih berani dan berpeluang untuk berbuat aneh-aneh, senaknya, korupsi, manipulasi, merasa paling benar, merasa paling hebat dan kuat, bahkan membuat aturan-aturan baru yang mengontrol dan menekan.

Barangkali, ada juga resonansi getaran yang positif dari para penguasa. Ada seorang lurah di Jateng yang kaya, nyentrik, tegas, baik hati, dan kreatif. Resonansi lurah ini akan berakibat positif terhadap rakyatnya. Ada juga bupati yang keren di Jatim, dan hal ini beresonansi baik terhadap masyarakatnya.

Mungkin juga ada satu dua gubernur yang berani dan sejauh ini terbukti baik-baik saja, sikap resonansif rakyatnya di sebagian tempat, (karena skala gubernur cukup luas) terlihat sangat kondusif.

Sayangnya, getaran lurah, bupati, dan gubernur yang merdeka-kreatif seperti itu sangat sedikit. Yang lebih banyak adalah para penguasa yang kaya yang ruang kemerdekaannya lebih besar, yang arogan, yang justru membuat getaran yang menimbulkan reaksi resonansif yang berbeda.

Pertama, masyarakat memberikan reaksi getaran yang, kalau dalam bahasa Jawa “luweh”, “sak karepmu”. Kamu seenaknya ya luweh, biarkan aku juga seenaknya dan luweh-luweh. Sikap luweh dan sak karepmu inti menimbulkan reaksi getaran yang berbeda.

Yang positif adalah mereka yang terus berkreasi, sebisanya, “sebaru mungkin”. Hal ini terlihat bagaimana sebagian masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaannya. Hal ini bisa dilihat di banyak kampung. Salah satu yang memesona antara lain beragamnya gerakan gerak jalan, beragamnya olah lomba kreatif.

Sayangnya, getaran ini, bisa jadi justru “membebaskan” para penguasa yang kaya untuk merasa lebih merdeka. “Toh rakyat terlihat senang dan gembira”, demikian kata para penguasa.

Namun, banyak juga masyarakat melakukan reaksi-reaksi resistensif dengan melakukan getaran-getaran merdeka lainnya. Buat spanduk protes. Kebut-kebutan dan ngamuk di jalan. Ngamuk dan ngomel di grup-grup WharsApp. Marah dan bersaing antarwarga, sehingga tidak jarang ada konflik dan kekerasan. “Kamu seenakmu, aku boleh dong seenaknya”. “Emang kamu saja yang merdeka?” terdengar juga suara seperti itu.

Masalahnya, getaran rakyat yang merasa bebas ini justru membuat penguasa tergetar untuk menggerakkan aparat kekerasan dan aparat hukumnya. Karena para penguasa tidak mau getaran itu mengganggu getaran para penguasa yang kaya.

Hal yang perlu dipikirkan adalah bagaimana getaran-getaran dari rakyat bukan sekedar reaksi dari getaran penguasa. Kita perlu mendukung sekuat dan selebar-lebarnya agar getaran dari rakyat justru berpengaruh-getar ke pihak penguasa yang kaya, penguasa yang zalim dan seenaknya, agar para penguasa melakukan getaran yang positif. Mungkin utopis.

Tapi, tidak ada yang tidak mungkin. Getaran suara hati rakyat harus tetap didengungkan. Tidak hanya dengan berceloteh di media sosial. Tapi, jika perlu dipikiran suatu sikap yang terorganisasi, ideologis, dan konsisten. Jika perlu, hingga getaran fisik.

Paling tidak, walau belum cukup sukses, masyarakat Pati sudah memperlihatkan hal tersebut. Saya berharap getaran masyarakat Pati beresonansi ke banyak hal lain. * * *

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *