KH Marsudi Syuhud: Ingin Jadi Orang Hebat Carilah ‘Rembetan’, Bangun Jejaring dan Tinggalkan Legacy

Rakyatmerdekanews.co.id, JAKARTA – Kesuksesan dalam kehidupan maupun dunia usaha tidak semata-mata ditentukan oleh modal materi. Jejaring, pengalaman, kepercayaan, serta kedekatan dengan orang-orang yang memiliki kapasitas menjadi bagian penting untuk membuka jalan menuju keberhasilan.

Pesan tersebut disampaikan KH Marsudi Syuhud saat memberikan tausiah dalam Majelis Zikir dan Ta’lim bertema “Menyalakan Power of Connectivity” di Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, Jakarta Barat, Sabtu (5/9/2026).

Dalam tausiah yang dikaitkan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu, KH Marsudi menekankan pentingnya membangun konektivitas atau yang ia sebut sebagai “rembetan”.

Menurutnya, seseorang yang ingin berkembang perlu belajar dan membangun kedekatan dengan orang-orang yang telah lebih dahulu memiliki pengalaman dan keberhasilan.

“Orang hebat modal dasarnya itu. Ingin menjadi besar carilah rembetan. Jika kita ikut orang dulu ketemunya apa yang jadi rembetan, jangan tanya jadi apa orang itu, tapi cari tahu juga orang terdekatnya pasti kelihatan,” ujar KH Marsudi.

Ia menjelaskan, konsep tersebut juga dapat dilihat dari perjalanan Rasulullah SAW. Sejak usia muda, Nabi Muhammad telah memperoleh pengalaman dengan mengikuti pamannya dalam perjalanan dan aktivitas perdagangan.

“Rasulullah sebenarnya pebisnis besar, dari usia 12 tahun sudah mengikuti paman dan dibawa pamannya,” katanya.

KH Marsudi mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan modal uang sebagai satu-satunya pertimbangan ketika hendak memulai bisnis. Menurutnya, pengetahuan, kemampuan membaca peluang dan kepercayaan juga merupakan modal penting.

“Kebanyakan kita jika mau berbisnis memikirkan modal yang dipikirkan. Padahal Rasulullah tidak mengajarkan ke arah itu. Bisa dengan modal kepercayaan,” tuturnya.

Ia juga mendorong calon pelaku usaha untuk terlebih dahulu belajar, melakukan analisis dan mencari bidang yang memiliki peluang sesuai kebutuhan masyarakat.

“Ketika orang mengerti, menganalisa yang tajam sudah jadi modal untuk memulai berbisnis. Carilah bisnis yang tidak banyak kompetitornya karena kebutuhan orang itu berbeda-beda,” jelasnya.

Menurut KH Marsudi, proses belajar melalui orang lain merupakan tahapan penting sebelum seseorang mampu berdiri dan berkembang secara mandiri.

“Kesimpulannya belajar dulu atau bisa juga dengan ikut orang itu perlu, contohnya Rasulullah ikut pamannya,” tambahnya.

Maulid Nabi dan Pentingnya Legacy

Selain membahas konektivitas dan dunia usaha, KH Marsudi mengajak jamaah memaknai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW secara lebih substantif.

Ia membandingkan peringatan Maulid Nabi dengan tradisi haul para ulama yang dilakukan setelah mereka wafat. Menurutnya, keduanya memiliki pesan penting tentang keberadaan dan peninggalan seseorang bagi generasi berikutnya.

“Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati saat lahirnya Rasulullah, sementara para Kyai diperingati haulnya setelah meninggal dunia. Saat Rasulullah dilahirkan sudah membuat ramai dan geger, sementara kita lahir tidak membawa apa-apa,” ujarnya.

Ia mengatakan, para kiai dikenang melalui haul karena selama hidupnya telah meninggalkan legacy atau warisan yang memberikan manfaat bagi orang lain.

“Maka para Kyai dihauli setelah dari lahir sampai kematian punya legacy, atau tinggalan berupa apa saja untuk orang setelahnya. Haul diperingati agar kita punya legacy, agar hidup ini diisi dengan hal-hal yang baik, dengan meninggalkan ilmu yang bermanfaat, harta yang bermanfaat,” tegasnya.

Karena itu, menurutnya, peringatan Maulid tidak cukup hanya menjadi kegiatan seremonial. Momentum tersebut harus menjadi sarana untuk meneladani perjalanan Rasulullah SAW dan mengambil nilai-nilai kehidupan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Orang Tua Diminta Bangun Lingkungan Positif

KH Marsudi juga memberikan pesan khusus kepada para orang tua agar memperhatikan lingkungan pergaulan anak. Ia menilai, membangun koneksi dengan orang-orang yang memiliki karakter dan kapasitas positif dapat menjadi bagian dari proses pembentukan masa depan generasi muda.

“Jika ingin anaknya jadi orang sukses, jadi orang hebat, rembetanlah dengan orang yang sudah hebat,” katanya.

Menurutnya, prinsip membangun konektivitas berlaku dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia profesional, bisnis maupun pemerintahan.

“Tidak terkecuali semua profesi, termasuk pada pejabat yang di atas juga awalnya rembetan,” pungkas KH Marsudi.

Pesan tersebut menegaskan bahwa power of connectivity bukan sekadar membangun sebanyak mungkin relasi, tetapi bagaimana seseorang memilih lingkungan, belajar dari figur yang tepat, memperoleh pengalaman dan pada akhirnya mampu menciptakan manfaat bagi orang lain.

Dengan demikian, keberhasilan tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi juga diukur dari legacy yang ditinggalkan untuk generasi berikutnya. (Tien/red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *