Rakyatmerdekanews.co.id, Bengkalis.– Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) hebat melanda lahan gambut seluas 12 hektare di kawasan penyangga Cagar Biosfer Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil, tepatnya di Dusun Tanjung Potai, Desa Tasik Tebing Serai, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis.
Hingga Senin (31/8/2026), tim gabungan masih berkejaran dengan waktu untuk melakukan proses pendinginan demi mencegah api merembet ke kawasan inti hutan konservasi dan gambut tropis tersebut.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Bengkalis, Salman Alfarisi, turun langsung ke garda terdepan memimpin operasi pemadaman dan pendinginan. Ia didampingi oleh Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Syamsul Rizal, untuk memastikan seluruh pergerakan taktis di lapangan berjalan efektif.
Kebakaran yang berada di titik koordinat 1,1292° LU dan 101,6428° BT ini menjadi ancaman serius karena membakar vegetasi semak belukar di atas permukaan sekaligus menjalar ke dalam lapisan tanah gambut sedalam beberapa meter. Karakteristik gambut yang menyimpan bara di bawah tanah membuat potensi api berkobar kembali sangat tinggi.
“Kami fokus melakukan penyisiran dan pendinginan (cooling down). Kepala api memang sudah berhasil dikendalikan, namun bara di dalam tanah gambut masih mengeluarkan asap dan berpotensi memicu kebakaran baru jika tertiup angin,” ujar Salman Alfarisi di lokasi kebakaran.
Perjuangan tim di lapangan menghadapi tantangan berat akibat faktor alam. Angin kencang di lokasi terus menerus mengancam arah api, diperparah dengan mengeringnya sejumlah parit dan kanal pasokan air di sekitar lokasi kejadian.

Untuk menyiasati minimnya air, petugas harus membentang selang sejauh 50 hingga 100 meter demi menjangkau sisa-sisa air di kanal terdekat. Operasi darat ini menggerakkan sedikitnya 62 personel gabungan bersenjatakan mesin pemadam portabel (mini striker), selang, dan nozzle. Tim gabungan tersebut terdiri dari:
* Polri: 25 personel
* TNI: 10 personel
* BPBD Kab. Bengkalis & Talang Muandau: 16 personel
* Balai Besar KSDA (BBKSDA): 6 personel
* Masyarakat Peduli Api (MPA): 5 personel
Mengingat area yang luas dan sulitnya akses darat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut mengerahkan bantuan helikopter water bombing. Satgas udara ini melakukan pengeboman air berkali-kali pada titik-titik kritis yang tidak bisa dijangkau oleh selang petugas darat.
Operasi besar-besaran ini sejalan dengan Instruksi Bupati Bengkalis, Kasmarni, mengenai Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla. Dalam instruksi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bengkalis dengan tegas melarang keras segala bentuk pembukaan lahan dengan cara membakar, terutama dalam periode risiko tinggi seperti saat ini.
Pemerintah daerah memperingatkan adanya sanksi hukum berat bagi korporasi maupun perorangan yang nekat melakukan pembakaran lahan. Sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan partisipasi aktif masyarakat desa menjadi kunci utama agar kabut asap tidak kembali melumpuhkan aktivitas wilayah Riau.
Tim Satgas Karhutla gabungan dipastikan akan tetap bertahan di lokasi untuk melanjutkan penyisiran hingga seluruh bara di bawah permukaan gambut benar-benar padam total.(FN)




