Rakyatmerdekanews.co.id, Duri, Bengkalis. 7 Mei 2026. KONOHA CITY – Jagat media sedang tidak baik-baik saja. Definisi media sebagai sarana penyampai informasi kini telah mengalami “rebranding” paksa oleh oknum-oknum kreatif yang menganut aliran Souangisme.
Bukan lagi menjadi pilar keempat demokrasi, media jenis ini lebih cocok disebut sebagai pilar keempat “meja makan,” karena fokus utamanya adalah memastikan dapur tetap ngebul dengan cara yang agak sedikit… maksa.
Jika media normal melakukan pengawasan sosial untuk kepentingan publik, Media Souang melakukan pengawasan secara personal. Mereka mengawasi siapa yang punya proyek, siapa yang lagi khilaf, lalu melakukan serangan “Senggol Manja.””
Logikanya sederhana: Senggol dulu, baru nego. Kalau sudah nego, rilis pesanan terbit. Isinya? Wah, malaikat pun kalah suci kalau sudah ditulis di rilis itu,” ujar seorang narasumber yang identitasnya dirahasiakan.
Fenomena “Berita Rilis Pesanan” ini telah mencapai tahap mengkhawatirkan. Redaksi tidak lagi butuh wartawan yang bisa menulis, melainkan wartawan yang jago copy-paste dan punya mental “Senggol Sini-Sana demi Sini-Sini (duit).”
Ciri-ciri berita mereka sangat khas:Judul:
1. Terlalu memuji sampai mual.
2. Isi: 100% sama dengan rilis dari humas, bahkan salah ketiknya pun ikut di-copy.
3. Tujuan: Bukan mengedukasi masyarakat, tapi mengedukasi kantong pribadi agar tidak kosong melompong.
Peringatan Bagi Instansi, Masyarakat dihimbau waspada jika bertemu wartawan yang lebih sering menanyakan “Ada titipan?” daripada menanyakan fakta lapangan. Karena bagi mereka, media bukan lagi perantara pesan, tapi perantara transferan.
Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu berita ‘Souang’ bisa membuat satu instansi kena mental (dan dompet).
Redaksi Anti-Souang “Berita kami bukan pesanan, kalau mau pesan, silakan ke ojek online saja.” (FN)






