Bangli-RMNews: Reruntuhan material lama akibat gempa bumi tahun 2022 kembali memunculkan ancaman di wilayah Kintamani. Insiden terbaru terjadi di jalur penghubung Desa Abang Batudinding–Terunyan, Rabu (5/11), saat hujan lebat memicu tumpahan material dari tebing hingga menutup total akses menuju Desa Terunyan.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian tersebut menyadarkan pentingnya penguatan langkah mitigasi bencana di kawasan rawan lereng Gunung Abang dan Batur. Pemerintah Kabupaten Bangli langsung bertindak cepat dengan mengerahkan alat berat dari Dinas PUPR dan menurunkan tim lapangan untuk membuka jalur vital itu.
Anggota DPRD Bangli, I Made Diksa, menyebut peristiwa tersebut merupakan dampak lanjutan dari gempa besar dua tahun lalu. Tumpukan material sisa gempa yang belum sepenuhnya stabil kini menjadi ancaman laten bagi warga.

“Ini bukan longsor baru, tapi material lama yang sudah menggantung sejak gempa 2022. Hujan deras membuat tumpukan itu ambruk dan menutup jalan,” ujar Diksa.
Ia menegaskan bahwa pemerintah harus segera menyiapkan langkah permanen, seperti pembangunan dinding penahan tanah (retaining wall) atau sistem drainase di tebing yang rawan runtuh untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Pemkab Bangli berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi geologi di jalur akses utama menuju Desa Terunyan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan bencana di wilayah Kintamani yang dikenal rawan gempa dan longsor.
“Pemerintah sudah gerak cepat, tapi kita juga perlu berpikir jangka panjang. Mitigasi permanen penting agar akses warga tidak kembali terputus,” tegas Diksa.
Berkat kolaborasi cepat antara petugas dan warga, jalur menuju Desa Terunyan kini telah kembali dibuka dan aktivitas masyarakat berjalan normal. Namun demikian, pemerintah mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi longsoran susulan, terutama di musim hujan. (skr/ips)






