Urat Malu di Balik Layar Kaca

Rakyatmerdekanews.co.id, Bengkalis Duri – 2 Januari 2026. “Pagi itu, aroma kopi dan gorengan di teras rumah Jeng Lastri kalah menyengat dibanding aroma gosip yang dibawa oleh rombongan bestie arisannya. Suasana yang semula tenang mendadak riuh ketika sebuah ponsel disodorkan ke tengah meja.

“Sis, oh Sis! Coba lihat ini,” seru Ning, jemarinya lincah menggeser layar ponsel. “Suami si Anu itu, lho! Saya lihat di medsos, wajahnya sama persis. Lagi ribut-ribut, ngamuk ke sana kemari sampai urat lehernya mau putus.”

Para ibu itu langsung merapat, mata mereka terpaku pada video berdurasi singkat yang sedang viral. Di sana, seorang pria paruh baya tampak sedang memaki-maki petugas di suatu tempat, memancing keributan di sorotan kamera hp.

“Aduh, kerjanya sebenarnya apa sih suaminya itu? Kok hobi banget viral dengan cara begitu?” tanya Jeng Lastri sambil geleng-geleng kepala.

“Apa emangnya mau kaya dengan cara cari duit dari ribut-ribut?” timpal yang lain dengan nada mencibir. “Nggak ada urat malunya ya? Dilihat orang se-Indonesia, lho.”

Percakapan itu mendadak hening sejenak saat mereka teringat sesuatu. “Anak bujang dan anak gadisnya kan sudah besar-besar ya? Bayangkan kalau video ini ditonton kawan-kawan sekolah anaknya. Apa nggak malu punya ayah yang suka bikin gaduh disana sini tempat cuma demi konten atau uang receh?”

“Betul itu, Jeng. Uang mungkin dapat, tapi martabat habis dijibirkan tetangga,” sahut Ning lagi. “Anak-anaknya pasti yang paling kena mental. Di sekolah dipojokkan, di lingkungan rumah digunjingkan. Padahal orang tua itu cermin buat anak, eh ini malah cerminnya retak karena ulah sendiri.”

Mereka kembali menatap layar ponsel. Di kolom komentar, ribuan orang menghujat pria itu. Di dunia nyata, tetangga-tetangga mulai berbisik setiap kali melewati rumahnya. Sebuah harga yang terlalu mahal untuk dibayar, sebuah kata ‘viral’. (FN)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *