Rakyatmerdekanews.co.id, Tangsel – Keluarga Besar Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Lokal 04 Serpong menghadirkan nuansa berbeda dalam kegiatan silaturahmi mereka. Mengusung tema “Berdamai dengan Sampah Organik dan Non Organik”, acara yang digelar di Sekretariat RAPI Setu, Kelurahan Setu, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Minggu (31/8/2025), tidak hanya menjadi ajang kebersamaan, tetapi juga gerakan nyata edukasi lingkungan.
Kegiatan ini diikuti jajaran pengurus dan anggota RAPI. Para peserta diajak memahami pentingnya memilah sampah rumah tangga, mengolah sampah organik menjadi kompos, serta mengelola sampah non-organik agar tetap bernilai dan tidak menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Ketua RAPI Lokal 04 Serpong, Sukendar, menegaskan bahwa upaya pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana.
“Tidak perlu muluk-muluk. Mulai saja dari kita dan keluarga. Insya Allah, kebiasaan kecil ini bisa menjadi teladan bagi lingkungan,” ujarnya.
Sukendar juga menyinggung keterbatasan TPA di Tangerang Selatan yang memicu penolakan dari daerah sekitar. Menurutnya, ajakan “berdamai dengan sampah” adalah langkah bijak agar beban kota tidak semakin berat.
“Kami ingin mengedukasi anggota agar bisa berdamai dengan sampah. Apalagi saat ini di Tangsel persoalan pembuangan sampah semakin sulit. Maka, kami mulai dari diri sendiri, khususnya dari anggota RAPI Lokal 04 Serpong,” tambahnya.
RAPI Lokal 04 Serpong menaungi tiga kecamatan dengan jumlah anggota aktif sebanyak 160 orang. Melalui kegiatan ini, para anggota diharapkan menjadi agen edukasi di lingkungannya masing-masing.
“Kita mulai dari hal kecil, insya Allah jika konsisten akan memberi dampak besar. Kami juga siap bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mencari solusi bersama,” tutur Sukendar.
Dukungan serupa disampaikan H. Cepi Sobirin, mewakili Lurah Setu. Ia menilai, kehidupan sehari-hari masyarakat memang tidak lepas dari sampah.
“Dari makanan, kopi, hingga rokok, semua menghasilkan sampah. Karena itu, mari kita pandai-pandai memilah dan mengelola agar lingkungan tetap rapi,” ungkapnya.
Sementara itu, narasumber acara Helda Fachri menekankan bahwa sampah seharusnya dipandang sebagai berkah, bukan musibah.
“Membuang atau membakar sampah sama saja membuang rezeki. Sampah bisa diolah, memberi nilai ekonomi, sekaligus mengurangi beban lingkungan,” jelasnya.
Helda mencontohkan pengalaman keluarganya yang berhasil mengurangi puluhan ton sampah dan menabung jutaan rupiah dalam dua tahun melalui bank sampah sederhana di rumah. Ia juga menegaskan perlunya aksi nyata yang berkelanjutan, bukan hanya kegiatan seremonial.
“Budaya memilah sampah sejak dari sumber masih minim. Padahal kalau dilakukan sejak awal, 50 persen masalah sampah sudah selesai. Sampah bukan sekadar limbah, melainkan energi terbarukan yang bisa menjadi sumber daya,” tegasnya.
Acara silaturahmi ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Yusuf.
“Pada siang hari ini, mudah-mudahan acara kita bisa berjalan dengan baik dan berhasil, sebagai simbol kekompakan dan niat tulus untuk menjaga silaturahmi serta kelestarian lingkungan di wilayah Serpong dan sekitarnya,” tutupnya. (Ratna)






