Rakyatmerdekanews.co.id, Bengkalis – Ketua Tuah Aliansi Anak Melayu (TUAH ALAM), Fredi Noza, mengeluarkan sebuah pesan refleksi mendalam yang ditujukan bagi seluruh elemen masyarakat di awal tahun 2026.
Pesan yang disampaikan pada Rabu, 14 Januari 2026 ini, dengan cepat menjadi perbincangan hangat karena mengandung sindiran tajam terhadap fenomena sosial dan kemanusiaan saat ini.
Dalam narasinya, tokoh pemuda yang akrab disapa Kincai ini menyoroti bagaimana manusia seringkali terjebak dalam formalitas dan terlambat dalam memberikan apresiasi serta kepedulian. Ia memaparkan empat poin ironi yang menurutnya menjadi potret buram kehidupan sosial masa kini.
Ketua Fredi mengawali refleksinya dengan membandingkan ketulusan di rumah sakit dan bandara. Menurutnya, dinding rumah sakit seringkali menjadi saksi doa yang lebih khusyuk dibandingkan tempat ibadah, karena manusia cenderung baru mengingat Tuhan saat berada di titik nadir.
Begitu pula dengan ekspresi kasih sayang. “Bandara menyaksikan lebih banyak pelukan daripada tempat pernikahan,” tulisnya. Hal ini menggambarkan bahwa rasa menghargai kehadiran seseorang seringkali baru meledak saat perpisahan sudah di depan mata.
Pesan Ketua Fredi Noza, semakin tajam ketika menyinggung soal tradisi penghormatan kepada orang yang telah tiada. Ia merasa miris melihat karangan bunga yang membanjiri pemakaman, sementara saat mendiang masih hidup, apresiasi sekecil apa pun sulit diberikan.
Puncak dari kritik sosialnya tertuju pada ketimpangan sosial di lingkungan sekitar. Ia memberikan perumpamaan pedas mengenai seseorang yang meninggal karena kelaparan, namun justru setelah kematiannya, hidangan makanan melimpah ruah disediakan dalam acara seremonial.
“Seseorang mati karena kelaparan, tapi setelahnya di kubur makanan dihidangkan,” tegas Fredi, menyiratkan bahwa bantuan nyata saat hidup jauh lebih mulia daripada kemegahan setelah kematian.
Menutup pesannya, Ketua Fredi Noza mengajak masyarakat Bengkalis khususnya, untuk kembali ke jati diri Melayu yang penuh dengan rasa asah, asih, dan asuh. Ia berharap tahun 2026 menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas tanpa harus menunggu momentum duka.
“Pesan ini adalah cermin bagi kita semua. Mari kita lebih peduli pada yang masih ada, lebih peka pada yang sedang berjuang, dan lebih tulus dalam berdoa tanpa menunggu kesulitan datang,” pungkasnya.
Pernyataan ini dinilai banyak pihak sebagai pengingat penting agar nilai-nilai kemanusiaan tidak kalah oleh egoisme dan rutinitas duniawi yang semakin padat di era modern ini.(FN)






