Nyadnya Massal di Bebalang: Ketika Sakral dan Kebersamaan Meringankan Beban Umat

Bangli-RMNews: Pagi yang sejuk di Karang Suci, Kedhatuan Agung Alang Sanja, Bebalang, Bangli, berubah menjadi saksi kebersamaan umat Hindu yang berkumpul dengan pakaian adat lengkap, wajah penuh harap, dan hati yang tulus. Sebanyak 80 keluarga hadir mengikuti Upacara Nyadnya massal, sebuah prosesi adat untuk melunasi Pitra Rna — hutang kepada leluhur — yang sarat makna spiritual.

Di bawah bimbingan 36 sulinggih, rangkaian upacara berjalan khidmat. Denting gamelan berpadu dengan aroma dupa, mengiringi prosesi potong gigi massal, Ngening di Tirta Bulakan, hingga pesiraman Ida Betara Sakti Pura Penataran Taman Bebalang. Puncak ritual, Nyegara Gunung — pertemuan sakral antara gunung dan laut — dijadwalkan pada 13 Agustus 2025.

Bagi I Wayan Hartadiguna dari Desa Jehem dan I Nyoman Ardika dari Dusun Umbala, Tembuku, pelaksanaan massal ini adalah jawaban atas beban yang kerap dirasakan umat saat melaksanakan upacara secara mandiri. “Dengan biaya sekitar Rp10 juta per keluarga, kami bisa menjalani upacara dengan khidmat tanpa terbebani biaya besar,” kata mereka hampir bersamaan, sambil menyampaikan terima kasih kepada Ida Ratu Begawan Putra Natha Bangli Anom Pemayun, Nyajamana Karya yang menggagas kegiatan ini.

Bukan hanya soal biaya, pelaksanaan massal ini juga memperkuat rasa kebersamaan. Di setiap langkah prosesi, umat saling menyapa, membantu, dan berbagi cerita. Upacara yang biasanya terasa berat kini menjadi momen persaudaraan yang hangat.

Di tengah modernisasi dan kesibukan, Nyadnya Massal di Bebalang membuktikan bahwa nilai-nilai adat dan spiritual masih mampu mempersatukan, meringankan beban, dan menguatkan ikatan sosial masyarakat Bali. (chan/ips)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *