Rakyatmerdekanews.co.id, Bengkalis, Bathin Solapan.- 12 Februari 2026. Dalam khazanah petuah lama, ada sebuah rahasia umum yang sering dibicarakan sambil bergurau namun mengandung kebenaran hakiki: “Waktu kecil menurut kata Ibu, setelah beristri mengikut kata Istri.”
Fenomena ini bukanlah sekadar kebetulan, melainkan sebuah filosofi *”Lepas Susu Pindah Pangkuan”*. Ini adalah perjalanan transisi paling krusial dalam hidup seorang lelaki.
Saat seorang lelaki masih “kocik” (kecil), Ibu adalah pusat semesta. Air susu ibu bukan hanya nutrisi, melainkan simbol perlindungan dan ketergantungan mutlak. Di fase ini, kata-kata Ibu adalah kompas yang menuntun kaki melangkah. Lelaki tumbuh dengan bakti dan patuh karena ia tahu dari rahim dan kasih itulah ia berasal.
Namun, roda waktu berputar. Ketika akad telah diucap, terjadilah “perpindahan sumber kehidupan”. Secara simbolis, lelaki yang tadinya menyusu pada Ibu, kini berpindah “menyusu” pada kasih sayang Istri. Pangkuan Ibu yang hangat kini berganti dengan pelukan Istri sebagai pelabuhan terakhir.
Di sinilah letak hakikatnya: Lelaki menuruti kata Istri bukan karena lemah, melainkan karena ia menyadari bahwa Istri adalah pemegang kunci ketenangan batin dan sumber kebahagiaannya yang baru.
Lelaki mungkin terlihat gagah di luar, namun secara batin, ia akan selalu butuh sosok wanita sebagai sandaran. Perjalanan dari susu Ibu ke susu Istri adalah proses pendewasaan tentang bagaimana seorang lelaki belajar menghargai sosok yang mengurus makan, minum, hingga urusan batinnya.
Menuruti kata Istri adalah bentuk penghargaan atas “pindah susu” tersebut. Lelaki yang bijak akan tetap memuliakan Ibunya sebagai pintu surga, namun ia juga akan selalu mendengarkan Istrinya sebagai penjaga rumah tangganya. Sebab, tanpa sandaran pada wanita hebat, lelaki hanyalah pengembara yang kehilangan arah.
Bunga melati harum baunya,
Tumbuh subur di samping tangga.
Susu Ibu awal nyawanya,
Susu Istri… penyejuk jiwa!.(FN)






