Rakyatmerdekanews.co.id, Bengkalis Duri – 3 Januari 2026 – Pada masa kampanye Pilkada dan Pileg lalu, wajahmu adalah personifikasi dari keramahan. Senyummu merekah lebar, sapaanmu hangat, dan tutur katamu begitu rendah hati—seolah engkau adalah sahabat karib yang paling memahami arti penderitaan. Engkau datang memohon restu, menyadari betapa terjalnya jalan menuju kursi legislatif tanpa bantuan pundak-pundak kami. Saat itu, kami adalah “keluarga” yang paling engkau hargai.
Tim relawan bergerak bagaikan mesin yang tak kenal lelah. Siang menjadi malam, malam menjadi pagi; mereka mengetuk pintu demi pintu, menerjang hujan dan terik, membawa namamu ke pelosok masyarakat.
Mereka bekerja tanpa pamrih, hanya bermodalkan satu harapan sederhana: jika kelak engkau duduk di “bangku basah” itu, engkau tidak akan lupa pada mereka yang telah membasahi baju dengan keringat demi kemenanganmu. Kami berharap kesejahteraan bukan hanya milikmu, tapi juga tetesannya sampai kepada mereka yang berjuang di baris depan.
Namun, roda waktu berputar dan nasib baik berpihak padamu. Engkau kini telah resmi menyandang gelar “Anggota Dewan yang Terhormat”. Tapi ironisnya, begitu bokongmu menyentuh empuknya kursi kekuasaan, ingatanmu seolah menguap bersama angin.
Cerita manis saat kampanye kini tinggal kenangan yang pahit. Harapan demi harapan yang dulu engkau janjikan kini pupus sirna. Jangan lagi bicara soal kesejahteraan tim; sekadar sapaan atau senyum simpul saat berpapasan pun engkau tampak enggan.
Sahabat yang dulu berjuang bersamamu kini dianggap orang asing. Engkau berjalan dengan dagu terangkat tinggi, dibalut kesombongan, seolah-olah kemenangan itu adalah hasil kerja kerasmu sendiri atau sekadar lobi-lobi elit di belakang meja.
Lebih menyakitkan lagi, matamu kini hanya tertuju pada mereka yang punya kuasa dan harta. Engkau lebih memilih memupuk relasi dengan pemilik proyek dan mereka yang berdompet tebal, sementara relawan yang berdarah-darah dahulu engkau campakkan begitu saja.
Ketahuilah, kekecewaan ini bukan hanya milik satu atau dua orang, tapi ratusan bahkan ribuan relawan yang merasa dikhianati. Kepercayaan yang kau hancurkan hari ini akan menjadi gema yang memekakkan telinga di masa depan. Di era ini, rekam jejak digital tidak akan pernah tidur. Setiap tahun, media sosial akan otomatis mengingatkan siapa engkau dahulu dan apa yang kau lakukan sekarang.
Masyarakat sudah cerdas. Mereka mencatat setiap langkahmu. Ingatlah, panggung kekuasaan itu ada batas waktunya. Apa yang kau tanam hari ini—kesombongan dan pengkhianatan—itulah yang akan kau tuai di masa depan. Karma tidak pernah salah alamat; ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengetuk pintumu.(FN)






