RMnews, Jakarta – Persoalan sampah di DKI Jakarta dinilai sangat kompleks dan pelik, dengan volume sampah yang terus meningkat dan tantangan dalam pengelolaan yang efektif. Penyebabnya beragam, mulai dari minimnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah, fasilitas pengelolaan yang belum memadai, hingga kurangnya penegakan hukum terkait pembuangan sampah liar.
Melihat kondisi ini membuat sejumlah aktivis turut ambil bagian untuk mengatasi permasalah sampah. Kali ini elemen yang tergabung dalam Koalisi Warga Untuk Jakarta Bersih dan Berbudaya bersama Jaga Suara, PERBANUSA dan MPAI menggelar kegiatan Focus Group Discussion dengan mengusung tema, “Mengubah Paradigma Pengelolaan Sampah Ikhtiar Menuju Jakarta Kota Global dan Berbudaya’. Bertempat di Kantor Agenda 45, Jalan Tebet Timur 1 No. 17, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (12/08).
Hadir dalam kegiatan itu, Dinas Lingkungan Hidup provinsi DKI Jakarta, Forum Bank Sampah, Ketua Forum Warga, BPBD provinsi DKI Jakarta, Forum Lintas Ormas, Gerakan Peduli Lingkungan, FORMAPEL, MPAI Evy Yusmiarti, S,P, kalangan kampus, Rotari Club, Kepala Bank BNI 46 cabang Manggarai, P4S Harmani, Koperasi Apsi Jaya Mandiri, Advokasi, Aspirasi dan Pilar-pilar Sosial, ADUPI, Gerakan Peduli Lingkungan, External Relation & CSV Manager Nestle, BRIN, PD Pasar Jaya, TPS 3R Baraya Runtah, Bank Sampah Gunung Emas, Ketua Komunitas Eco Enzyme Nusantara, Bank Sampah Pakubuwono Terace, Perkumpulan Minyak Jelantah, LEMIGAS, Dewan Pakar Agenda 45, Kawan 98 Untuk Jakarta Menyala, Babinsa/Binmas dan lain sebagainya.
Tak ketinggalan hadir dalam kegiatan itu Tjepy Darmawan, S.I.P, selaku tim verifikasi Adipura nasional dinilai memberikan andil besar untuk memberikan solusi dalam mengatasi persoalan sampah.
Kelik Ismunanto selaku ketua penyelenggara acara mengatakan, perilaku kumpul-angkut-buang bisa jadi merupakan cermin ataupun refleksi tingkat kesadaran serta tingkat perilaku kita bersama. Perilaku yang seakan sudah menjadi budaya kita tersebut, berdampak pada tumpukan sampah yang sudah diambang menjadi bencana nasional. Berbagai peraturan untuk mengubah perilaku masyarakat sudah dicanangkan dari pusat hingga daerah. Namun hingga saat ini persoalan sampah masih menjadi persoalan kita bersama. Penyelesaian melalui pendekatan investasi teknologi (hilir) dengan melupakan investasi di sektor hulu (rumah tangga, pemukiman, dan lain sebagainya) merupakan problem tersendiri, ungkapnya.
Dikatakan Kelik, penyelesaian di sektor hilir tanpa ditopang oleh perubahan kesadaran ataupun perubahan perilaku, bisa jadi bukan solusi jangka panjang.





