Dari Balik Jeruji Menuju Kemandirian: Warga Binaan Lapas Bengkalis Ahli Budidaya Maggot

Rakyatmerdekanews.co.id, Bengkalis – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bengkalis sukses menciptakan ekosistem kemandirian pangan yang inovatif. Melalui unit Bimbingan Kemandirian, Lapas Bengkalis mentransformasi limbah organik dapur menjadi pakan ternak berkualitas tinggi melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), Selasa (24/02).

Kegiatan yang dikomandoi oleh Seksi Kegiatan Kerja (Giatja) ini melibatkan warga binaan secara aktif. Polanya sederhana namun efektif: sisa makanan dari dapur Lapas diolah menjadi media tumbuh maggot. Hasil panen larva yang kaya nutrisi tersebut kemudian digunakan sebagai pakan utama peternakan ayam produktif di dalam lingkungan Lapas.

Kasi Giatja Lapas Bengkalis, David Susilo, menegaskan bahwa program ini merupakan langkah strategis untuk membekali warga binaan dengan keterampilan yang relevan.

“Kegiatan ini terus kami tingkatkan agar warga binaan memiliki keterampilan teknis yang mumpuni. Selain menciptakan lingkungan yang bersih dengan meminimalkan sampah, inovasi ini terbukti mampu menekan biaya operasional pakan ternak secara signifikan,” ujar David.

Senada dengan hal tersebut, Kalapas Bengkalis, Priyo Tri Laksono, menjelaskan bahwa pemilihan maggot BSF didasarkan pada efisiensi proses penguraian sampah organik yang sangat cepat.

“Dari sisi nutrisi, larva maggot memiliki kandungan protein dan lemak yang sangat baik untuk mempercepat pertumbuhan ternak. Hasilnya, kualitas ayam ternak kami tetap terjaga meski tanpa bergantung sepenuhnya pada pakan pabrikan yang harganya terus meningkat,” jelas Priyo.

Lebih lanjut, Priyo menekankan bahwa program ini bukan sekadar urusan perut ternak, melainkan investasi masa depan bagi warga binaan. Mereka diajarkan manajemen pengelolaan limbah dan siklus hidup serangga BSF yang memiliki nilai ekonomi tinggi di luar sana.

Seluruh proses, mulai dari pemilahan sampah organik hingga masa panen, berada di bawah pengawasan ketat petugas pendamping. Hal ini dilakukan untuk memastikan kebersihan area budidaya serta kualitas larva tetap optimal sesuai standar kesehatan hewan.

“Keberhasilan ini membuktikan bahwa jeruji besi bukan penghalang untuk berinovasi. Kami berkomitmen mengembangkan unit usaha berbasis ekonomi sirkular ini sebagai bekal kemandirian bagi warga binaan saat kembali ke masyarakat nanti,” tutup Priyo.

Selama kegiatan berlangsung, proses budidaya hingga pemberian pakan ternak berjalan dengan aman, tertib, dan tetap mematuhi standar pengamanan yang berlaku. Inovasi ini menjadi bukti nyata komitmen Lapas Bengkalis dalam mewujudkan pelayanan pembinaan kemandirian yang produktif dan ramah lingkungan. (FN)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *