Aktivis Tanah Melayu Fredi Noza Bersuara”Mafia Tanah, Ingat Murka-Nya Tanah!”

Rakyatmerdekanews.co.id, Bengkalis Riau – Pernyataan filosofis kuno, di ingatkan kembali oleh Ketua Umum Tuah Aliansi Anak Melayu, Fredi Noza, “kita dari tanah kembali ke tanah,” kini bergema kembali di tengah maraknya sengketa pertanahan. Pesan ini menjadi pengingat bagi mereka yang terjerat dalam praktik perebutan lahan dengan cara-cara curang, bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi, di dunia dan di akhirat.

Beberapa waktu terakhir, kasus-kasus sengketa lahan terus mencuat ke publik, melibatkan berbagai pihak, mulai dari individu, kelompok, hingga korporasi besar. Modus operandinya beragam, mulai dari pemalsuan dokumen, klaim sepihak, hingga penggunaan kekerasan untuk mengusir pemilik sah.

Dalam sebuah diskusi publik, Ketua Fredi Noza menyoroti fenomena ini. “Pesan ‘kita dari tanah kembali ke tanah’ seharusnya menjadi rem bagi keserakahan manusia,” ujarnya. “Manusia lupa bahwa tanah hanyalah titipan. Mereka mati-matian merebutnya dengan cara tidak jujur, padahal pada akhirnya mereka akan kembali ke tanah, bukan sebagai pemilik, melainkan sebagai penghuni terakhirnya.

Pesan Ketua’ tersebut semakin relevan dengan adanya laporan dari berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menunjukkan peningkatan konflik agraria. Banyak masyarakat adat dan petani kecil menjadi korban penyerobotan, kehilangan hak atas tanah ulayat dan ladang yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Para korban penyerobotan seringkali berada dalam posisi yang lemah. Mereka tidak hanya harus menghadapi kekuatan finansial dan politik yang lebih besar, tetapi juga harus menghadapi proses hukum yang panjang dan melelahkan. “Saat petani protes tanahnya digusur, yang datang malah aparat, bukan kementerian terkait untuk mencari tahu masalahnya,” kata seorang perwakilan petani, menggambarkan ketidakberdayaan mereka.

Namun, peringatan akan “murkanya tanah” menjadi alarm yang lebih dalam. Dalam ajaran agama dan kepercayaan lokal, ada konsekuensi yang lebih berat dari sekadar hukuman duniawi. Keyakinan bahwa tanah akan “menghakimi” kembali mereka yang mengambilnya secara tidak adil, menjadi pesan moral yang kuat. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadis, mengambil sejengkal tanah milik orang lain secara zalim akan membawa konsekuensi yang sangat berat di akhirat.

Pemerintah sendiri telah berupaya untuk menyelesaikan konflik agraria melalui program redistribusi lahan dan sertifikasi, meskipun hasilnya masih jauh dari harapan. Kasus-kasus mafia tanah juga terus diungkap, menunjukkan bahwa masalah ini melibatkan jaringan yang kompleks.

Melalui berita ini, kita diingatkan kembali pada pesan mendalam tersebut. Pertarungan memperebutkan tanah dengan cara curang bukan hanya merugikan sesama, tetapi juga melanggar etika dan mengundang konsekuensi yang jauh lebih besar di kemudian hari. Sebelum terlambat, mari kita renungkan kembali pesan para leluhur: kita berasal dari tanah, dan pada akhirnya, akan kembali ke tanah. Hormatilah hak-hak orang lain, karena tanah tidak pernah berbohong tentang siapa yang berhak atasnya.(FN)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *