Darurat! 33 Negara Berebut Stok Pangan

RMnews, Jakarta — Kondisi global yang semakin tidak menentu membuat ketahanan pangan menjadi perhatian serius banyak negara. Langkah antisipasi tersebut dilakukan untuk risiko konflik geopolitik, bencana alam, cuaca ekstrem, serangan siber yang mengganggu infrastruktur, hingga gangguan rantai pasok dan distribusi.

Sedikitnya 33 negara telah mengeluarkan imbauan agar masyarakat mengamankan kebutuhan dasar di rumah. Inggris dan Jepang bahkan merekomendasikan persediaan makanan dan air minum untuk minimal 72 jam atau 3 hari. Di tengah situasi tersebut, Menteri Pertanian menyebut Indonesia memiliki modal kuat berupa cadangan beras pemerintah (CBP), potensi produksi dari tanaman yang siap dipanen, serta stok di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka).

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman. Kita punya produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga,” ujar Amran dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (1/11).

Berdasarkan data 26 Oktober 2026, total ketersediaan beras nasional mencapai sekitar 25 juta ton yang terdiri atas 4,5 juta ton cadangan Perum Bulog, 10 juta ton potensi standing crop panen, dan 10 juta ton stok di sektor horeka, jauh melampaui kebutuhan bulanan nasional yang berkisar 2,5 juta ton.

“Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa,” tegas Amran.

​Untuk menjaga keberlanjutan dan mengantisipasi ancaman perubahan iklim, Kementerian Pertanian memperkuat program strategis seperti optimalisasi lahan, pompanisasi, dan penyediaan benih unggul.

“Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi. Ada keringat petani dan ada negara yang hadir,” pungkasnya. (*/Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *