Rakyatmerdekanews, Ngada – Hari kedua Rangkaian _Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores – A Spiritual Journey of Reflection and Recovery_, Sabtu (24/10), sebanyak 70 peserta Camino kembali melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 25,5 kilometer, melewati sejumlah titik yang merepresentasikan kekayaan spiritual, budaya, dan kehidupan masyarakat Flores.
Perjalanan hari kedua dimulai dari Gereja Mater Boni Consili (MBC) Bajawa, dilanjutkan menuju Gereja Paroki Maria Ratu Semesta Alam, Langa, Kampung Adat Bena, dan Paroki Rakateda I, sebelum berakhir di kawasan Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Mataloko. Rangkaian perjalanan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Flores melalui pola perjalanan wisata religi yang menghubungkan situs keagamaan, warisan budaya, alam, serta interaksi dengan masyarakat setempat.
Di Kampung Adat Bena, peserta berkesempatan mengenal kekayaan tradisi dan warisan megalitik masyarakat Ngada. Persinggahan ini memperlihatkan bagaimana nilai-nilai adat, penghormatan kepada leluhur, dan kehidupan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas budaya Flores.
Setelah menyelesaikan perjalanan, peserta menuju Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Mataloko dan menginap di Kemah Tabor Mataloko. Camino hari kedua ditutup dengan ramah tamah dan makan malam bersama para seminaris, imam, pater, serta para guru di lingkungan seminari. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan dan persaudaraan antara peserta Camino de Flores dengan komunitas pendidikan calon imam di Flores.
Dalam kesempatan tersebut, mewakili para peserta Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, inisiator Camino de Flores, menyerahkan rosario kepada para seminaris. Ia juga menyampaikan komitmen untuk turut membantu perbaikan bangunan seminari yang terdampak gempa bumi Flores bermagnitudo 7,7 beberapa waktu lalu. Dukungan ini menjadi wujud kepedulian yang menyertai perjalanan Camino de Flores, sejalan dengan semangat refleksi, berbagi, dan pemulihan.
Mari Elka Pangestu menyampaikan bahwa perjalanan Camino de Flores menghadirkan pengalaman yang berkesan melalui perjumpaan langsung dengan masyarakat, menyapa anak-anak, interaksi dengan warga di sepanjang jalur, serta sambutan komunitas lokal menjadi bagian penting yang memperkaya pengalaman para peserta.
“Sepanjang hari kemarin dan hari ini, kami sangat tersentuh dengan semuanya. Sepanjang perjalanan kami banyak ngobrol dengan masyarakat, tidak ada yang tidak menyapa, dan kami merasa disambut dengan sukacita. Hanya di sini, seperti diterima di rumah sendiri,” ungkap Mari.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, menyampaikan bahwa Camino de Flores memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu alternatif aktivitas wisata di Pulau Flores yang memadukan perjalanan spiritual, keindahan alam, kekayaan budaya, dan interaksi langsung dengan masyarakat lokal.
“Sebagai peserta, saya merasakan bahwa Camino de Flores menawarkan pengalaman yang berbeda. Perjalanan ini bukan hanya tentang berjalan kaki, tetapi juga tentang mengenal Flores lebih dekat, menyusuri tempat-tempat yang memiliki nilai spiritual dan budaya, serta berinteraksi dengan masyarakat di sepanjang jalur perjalanan. Pengalaman seperti ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari perjalanan yang lebih mendalam dan bermakna,” ungkapnya.
Kementerian Pariwisata siap mendukung promosi Camino de Flores agar semakin dikenal sebagai salah satu pilihan aktivitas wisata di Flores. Kemenpar juga melihat peluang untuk memperkenalkan perjalanan ini melalui jejaring promosi pariwisata, media, dan pelaku industri perjalanan, sehingga ke depan dapat dikembangkan menjadi produk wisata yang terencana dan siap ditawarkan kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Harapannya, kehadiran Camino de Flores dapat memperluas pilihan wisata di Flores sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di wilayah yang dilalui.
Lebih lanjut, dalam sambutannya, Praeses Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Mataloko, RD Stef Wolo, menyampaikan apresiasi atas kunjungan rombongan Camino de Flores. Ia menyambut para peserta sebagai bagian dari keluarga besar seminari dan memaknai perjalanan tersebut sebagai kesempatan membangun relasi sosial, persaudaraan, serta kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat Flores, termasuk pemulihan fasilitas pendidikan yang terdampak bencana.
Ia juga mengapresiasi pilihan Mari Elka Pangestu merayakan ulang tahunnya yang ke-70 melalui perjalanan sejauh 70 kilometer bersama masyarakat Flores. Menurutnya, perjalanan tersebut bukan sekadar aktivitas berjalan kaki, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengungkapkan rasa syukur, mempererat persahabatan, dan menghadirkan kepedulian nyata bagi sesama.
Sementara itu, Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menilai Camino de Flores sebagai salah satu peluang untuk memperkuat pengembangan pola perjalanan wisata religi Katolik di Pulau Flores. Dengan menghubungkan gereja, kampung adat, pusat pendidikan keagamaan, serta potensi alam dan budaya, perjalanan ini diharapkan dapat memperkenalkan pengalaman wisata yang lebih mendalam sekaligus memperluas persebaran kunjungan wisatawan ke berbagai wilayah di Flores.
“Camino de Flores ini menjadi salah satu peluang pengembangan wisata religi Katolik di Pulau Flores, bagaimana dari satu titik destinasi wisata religi, destinasi wisata budaya, dan alam serta interaksi dengan masyarakat saling terhubung dan dikemas dalam satu kegiatan. Pola perjalanan seperti ini diharapkan juga dapat menambah lama tinggal wisatawan serta persebaran wisatawan sehingga tidak terkonsentrasi pada satu lokasi saja,” ungkap Andhy.
Pengembangan pola perjalanan tersebut juga membuka peluang bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam penyediaan layanan wisata, kuliner, produk budaya, dan berbagai kebutuhan perjalanan. Kolaborasi antara pemerintah, gereja, komunitas, dan pelaku pariwisata menjadi penting untuk memastikan pengembangan yang berkelanjutan serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ramah tamah malam kedua Camino (24/10/2026) ini turut dihadiri Bupati Nagekeo, Wakil Bupati Ngada, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada, serta Romo Vikaris Episkopal (Vikep) Ngada. Kehadiran para pemangku kepentingan ini mencerminkan dukungan dan keterlibatan berbagai pihak dalam pengembangan potensi wisata serta penguatan solidaritas bagi pemulihan Flores.
(Red)
Camino de Flores Etape Tengah Hari Kedua, Perkuat Wisata Religi dan Solidaritas untuk Pemulihan Flores






