
“Anatomi sebuah pernyataan, dari bibir tokoh kunci hingga menjadi kenyataan di bursa.“
Oleh: Ana Mustamin – Pemerhati Komunikasi Publik, Pendiri KUPASI (Komunitas Penulis Asuransi Indonesia), Sekretaris Jenderal ASPRINDO (Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia).
INVESTORTRUST – Ada sebuah adegan yang selalu berulang di pasar keuangan. Seorang tokoh penting berbicara. Kalimatnya pendek. Nada bicaranya datar. Namun beberapa menit kemudian, layar-layar perdagangan di Jakarta, Singapura, hingga New York berubah menjadi merah.
Apa yang sebenarnya terjadi di antara jeda sebuah pernyataan dan kepanikan pasar?
Jawabannya tidak ada di dalam angka, melainkan di dalam psikologi komunikasi.
Pasar Mendengar Siapa, Bukan Apa
Dalam teori komunikasi klasik Harold Lasswell, ada pertanyaan abadi: siapa mengatakan apa, kepada siapa, dan dengan efek apa. Di pasar, variabel “siapa” jauh lebih menentukan daripada “apa”.
Pernyataan yang sama tentang pelemahan rupiah akan memiliki nasib yang berbeda di telinga pasar. Jika ia datang dari akun anonim di media sosial, ia akan lewat sebagai angin. Namun jika ia datang dari gubernur bank sentral, ketua Federal Reserve, atau seorang konglomerat teknologi, ia akan menjadi stimulus yang memicu respons kolektif.
Psikologi komunikasi menyebutnya kredibilitas sumber. Pada titik tertentu, otoritas seseorang melumpuhkan kemampuan kritis khalayak. Pasar tidak lagi mencerna isi pernyataan, ia mencerna bobot orang yang menyatakannya. Inilah sebabnya pasar modal sangat sensitif pada pidato, bahkan pada jeda dan pilihan kata dalam pidato.
Ketika seorang tokoh kunci mengatakan “kami akan mencermati data inflasi dengan seksama”, pasar tidak mendengar kata “mencermati”. Pasar mendengar “akan ada kenaikan bunga”. Otak kolektif pasar membenci ketidakpastian. Untuk meredakan kecemasan akibat ambiguitas, ia menciptakan kepastiannya sendiri, bahkan jika kepastian itu keliru.
Jalur Cepat dari Kata ke Tindakan
Sebuah pernyataan bekerja di pasar melalui tiga jalur yang hampir bersamaan.
Pertama, jalur kognitif. Pernyataan adalah bingkai. Bingkai menentukan cara orang melihat realitas. Ketika bingkai itu berisi ancaman, perhatian menyempit.
Kedua, jalur emosional. Riset ekonomi perilaku yang dikembangkan Daniel Kahneman menunjukkan bahwa rasa takut kehilangan bekerja dua kali lebih kuat daripada hasrat untuk mendapatkan keuntungan. Karena itu, satu kalimat bernada waspada jauh lebih cepat memicu aksi jual daripada satu laporan laba yang cemerlang memicu aksi beli.
Ketiga, jalur sosial. Pasar adalah kerumunan. Di tengah kerumunan, manusia mencari kompas pada perilaku orang lain. Ketika harga mulai bergerak karena pernyataan, gerakan itu sendiri menjadi pesan baru. Orang menjual karena orang lain menjual. Fenomena ini oleh psikolog sosial disebut bukti sosial. Pernyataan awal hanyalah pemantik, yang membakar adalah kerumunan itu sendiri.
Celah yang Dihuni Spekulan
Di sinilah spekulan profesional bekerja. Mereka jarang menjadi orang yang terkejut oleh pernyataan. Mereka adalah orang yang menunggu pernyataan itu datang.
Pola ini dapat dibaca dengan jernih. Jauh sebelum agenda penting seperti rapat suku bunga atau rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, posisi besar telah diambil. Pasar dibuat tipis dan sepi. Likuiditas ditahan.
Begitu pernyataan yang ambigu dilemparkan, ruang tafsir terbuka lebar. Media keuangan mengamplifikasinya dengan judul-judul yang dramatis. Algoritma perdagangan yang membaca kata kunci seperti inflasi, krisis, atau kenaikan bunga bekerja otomatis. Kepanikan ritel menyusul.
Pada fase inilah spekulan tidak perlu mendorong. Mereka hanya perlu memanen. Mereka membeli ketika ritel panik menjual di harga bawah, dan menjual ketika ritel kembali masuk dengan euforia di harga atas. Mereka tidak melawan arus. Mereka memahami bahwa arus itu sendiri diciptakan oleh tafsir atas satu kalimat.
Spekulan tidak menciptakan isu. Mereka mengelola reaksi atas isu.
Ketika Ramalan Menciptakan Dirinya Sendiri
Titik paling genting dari semua rangkaian ini adalah apa yang oleh sosiolog Robert K. Merton disebut sebagai ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya, atau “self-fulfilling prophecy”.
Sebuah pernyataan yang pada awalnya tidak sepenuhnya benar dapat menjadi benar karena dipercaya oleh banyak orang.
Sejarah ekonomi Indonesia dan dunia mencatat banyak contohnya. Isu tentang sebuah bank yang disebut mengalami masalah likuiditas, meski pada awalnya tidak akurat, dapat memicu penarikan dana besar-besaran oleh nasabah. Penarikan itulah yang kemudian benar-benar membuat bank tersebut krisis likuiditas. Ramalan menciptakan realitasnya sendiri.
Di pasar saham, mekanismenya serupa. Sebuah prediksi dari lembaga besar bahwa indeks akan jatuh ke level tertentu mendorong aksi jual massal. Karena aksi jual massal itulah, indeks benar-benar jatuh ke level tersebut. Prediksi itu kemudian dikenang sebagai prediksi yang akurat, padahal ia adalah penyebab dari apa yang diprediksinya.
Pasar dalam pengertian ini tidak sedang meramalkan masa depan. Ia sedang menciptakan masa depan yang ia takutkan.
Diperlukan Kehematan Kata
Pada akhirnya, pelajaran dari anatomi pernyataan di pasar adalah tentang tanggung jawab komunikasi.
Semakin tinggi posisi seseorang dalam ekosistem ekonomi, semakin ekonomis ia harus dalam berkata-kata. Sebab di pasar, kata tidak pernah sekadar kata. Ia adalah stimulus, ia adalah komando, dan kadang, ia adalah kenyataan yang menunggu untuk terjadi.
Bagi pelaku pasar yang rasional, tugasnya adalah membedakan mana yang merupakan sinyal dan mana yang hanya kebisingan. Sinyal adalah data fundamental yang terverifikasi. Kebisingan adalah tafsir emosional atas satu kalimat yang belum tentu memiliki makna.
Pasar akan selalu bergerak oleh rasa takut dan serakah. Dan selama dua emosi purba itu masih menjadi penggerak utama, satu kalimat dari orang yang tepat akan selalu cukup untuk mengubah arah angin.***




