Rakyatmerdekanews.co.id, Bengkalis Duri – Sebuah fenomena sosial yang menyentuh hati sekaligus mendobrak cara-cara konvensional dalam berdonasi terjadi di sepanjang jalanan utama Kota Duri, Kabupaten Bengkalis. Nuansa ibadah Jum’at Berkah pada 2 Oktober 2026 menjelma menjadi panggung sukacita massal yang tak terlupakan bagi warga setempat, menyusul aksi heroik dan kreatif yang digagas oleh Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Tuah Aliansi Anak Melayu.
Jika mayoritas lembaga sosial memilih zona nyaman dengan mendirikan tenda statis atau membagikan paket sembako di satu titik, ormas ini justru memilih jalur bergerak (mobile). Mereka turun langsung ke episentrum aktivitas warga melalui gerakan bertajuk “Salam Sobat”, sebuah metode berbagi yang dinilai sangat memanusiakan manusia dan menyita perhatian luas publik internasional maupun domestik.
Aksi spektakuler ini dikomandoi langsung oleh sang Ketua Umum Tuah Aliansi Anak Melayu, Fredi Noza. Tanpa pengawalan mewah, tokoh pemuda Bengkalis ini menunggangi sepeda motor, membelah kepadatan lalu lintas, dan menerjang terik matahari Kota Duri demi memburu senyuman dari masyarakat bawah yang sedang berjuang mengais rezeki.
Metode infiltrasi sosial yang mereka terapkan terbilang jenius dan emosional. Fredi menghampiri warga satu per satu, mulai dari para pengayuh pedal, pekerja kasar, hingga pejalan kaki, hanya untuk sekadar menyapa hangat dan menjabat tangan mereka dengan erat. Namun, momen magis terjadi saat jabat tangan dilepaskan; warga terperanjat mendapati lembaran uang tunai segar telah terselip rapi di dalam telapak tangan mereka. Kejutan instan ini seketika memecah suasana dan mengalirkan air mata haru serta senyum sumringah di wajah para penerima.
Di hadapan kepungan awak media yang mengawal aksi ini, Fredi Noza menegaskan bahwa penggunaan sepeda motor bukanlah sekadar gaya-gayaan, melainkan strategi taktis untuk meruntuhkan tembok pemisah status sosial antara organisasi dan rakyat.
“Hari Jum’at adalah momentum terbaik untuk melipatgandakan amal dan menebar senyuman. Melalui gerakan ‘Salam Sobat’ ini, kami ingin menyentuh hati masyarakat Duri secara langsung tanpa sekat. Kita tidak hanya sekadar memberi, tetapi juga menjalin silaturahmi yang erat,” ujar Fredi dengan peluh yang bercucuran namun memancarkan semangat yang berkobar.
Lebih lanjut, Fredi menguliti makna filosofis mendalam di balik filosofi jabat tangan misterius yang menjadi motor penggerak pergerakan kemanusiaan ini.
“Genggaman tangan yang kami buka bukan sekadar berisi materi, melainkan sebuah pesan kuat bahwa Tuah Aliansi Anak Melayu peduli, hadir, dan siap merangkul sesama dalam kondisi apa pun,” tegasnya, mempertegas komitmen kesetiakawanan sosial ormas tersebut.
Melalui lompatan gerakan visioner ini, Fredi menargetkan lahirnya efek domino yang masif. Ia berharap stimulan ini mampu memantik api kerelaan bergotong-royong serta memperluas radar kepedulian sosial di seluruh pelosok Kabupaten Bengkalis, dengan Kota Duri sebagai episentrum pergerakannya.
Hingga menjelang sore, aksi spontan nan revolusioner ini memicu gelombang apresiasi yang luar biasa dari berbagai elemen masyarakat. Mulai dari barisan pengendara ojek online, pedagang kaki lima yang bertahan di pinggir jalan, hingga gerombolan anak-anak yang baru keluar dari gerbang sekolah tampak berebut menyambut antusiasme ini. Di mata warga, Tuah Aliansi Anak Melayu tidak hanya hadir membawa solusi ekonomi instan, melainkan memberikan sebuah hiburan psikologis dan pendekatan interpersonal yang sangat humanis serta menyentuh harkat martabat mereka sebagai warga kota.(FN)






