Persoalan Sekolah Berdampak pada Psikologis Anak, KPAI dan Pemkot Tangsel Lakukan Pendampingan

0-3840x1742-0-0-{}-0-24#

Rakyatmerdekanews.co.id, Tangsel — Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bersama Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) melakukan pemantauan kondisi psikologis siswa TK Islam Pembangunan dan SD Islam Pembangunan, Jalan Siliwangi No. 10, Pamulang, Tangerang Selatan, Jumat (4/9/2026).

Pemantauan tersebut dilakukan menyusul persoalan di lingkungan sekolah yang menimbulkan kekhawatiran sejumlah orang tua terhadap kondisi psikologis serta rasa aman anak-anak selama mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).

Perwakilan Dinas Pendidikan Tangerang Selatan, Muchlis, menegaskan pemerintah daerah memprioritaskan keberlangsungan proses pembelajaran agar tetap berjalan dengan aman dan kondusif.

“Kepentingan kami adalah mengamankan pembelajaran,” ujar Muchlis.

Sementara itu, perwakilan DP3AP2KB Tangerang Selatan, Tri Purwanto, mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman untuk memetakan kondisi psikologis anak secara menyeluruh.

Menurutnya, dampak persoalan yang terjadi tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga orang tua.

“Yang berkembang ternyata bukan anak saja, orang tua juga ikut terdampak,” katanya.

Sebagai langkah awal, pada Jumat terdapat dua siswa yang mendapatkan pendampingan untuk mengidentifikasi kebutuhan psikologis mereka. Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu anak kembali merasa aman sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara normal.

Kepala Sekolah TK-SD Islam Pembangunan, Asep Mutaqin Abror, mengatakan pihak sekolah terus memberikan penguatan kepada para siswa. Salah satunya dilakukan melalui kegiatan salat duha bersama yang bertepatan dengan rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Menurut Asep, kegiatan tersebut diisi dengan penguatan nilai kasih sayang, kesabaran, keteladanan, serta cara menghadapi berbagai persoalan.

Penguatan juga dilanjutkan oleh masing-masing wali kelas melalui cerita keteladanan Rasulullah SAW dan refleksi bersama para siswa.

Selain itu, sekolah melakukan pemantauan kondisi siswa bersama orang tua dan KPAI. Asep menjelaskan, kondisi psikologis anak tidak selalu ditunjukkan melalui tangisan atau rasa takut.

Perubahan tersebut, kata dia, juga dapat terlihat dari perubahan perilaku, kecemasan, cara berbicara, hingga penggunaan kosakata yang tidak biasa.

“Yang terpenting anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan dan bisa belajar dalam suasana yang aman dan nyaman,” tegas Asep.

Kekhawatiran juga disampaikan perwakilan wali murid, Nufus Zahra. Ia mengatakan sejumlah orang tua mencemaskan kondisi psikologis anak setelah munculnya persoalan di lingkungan sekolah.

Menurutnya, terdapat anak yang menunjukkan rasa takut hingga enggan kembali ke sekolah.

Karena itu, para orang tua berharap seluruh pihak dapat mengedepankan ketenangan dan tidak memperburuk situasi yang ada.

“Yang pertama adalah melindungi proses KBM supaya normal dan anak-anak kami bisa kembali merasa aman di sekolah,” ujarnya.

Pemantauan KPAI bersama Pemkot Tangerang Selatan tersebut diharapkan dapat menghasilkan pemetaan kebutuhan pendampingan bagi siswa yang terdampak.

Seluruh pihak juga didorong menyelesaikan persoalan melalui mekanisme hukum dan prosedur yang berlaku, dengan tetap mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak.

Dengan demikian, hak anak untuk memperoleh pendidikan dapat tetap terpenuhi dalam lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan kondusif. (Ratna)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *