Rakyatmerdekanews.co.id, Duri Pinggir – Menghadiri sebuah hajatan atau walimah pada hakikatnya adalah cara mulia untuk menyambung tali silaturahmi.
Namun, Islam mengatur dengan sangat detail mengenai adab bertamu agar makanan yang dikonsumsi menjadi berkah, bukan justru menjadi beban bagi tuan rumah atau mendatangkan dosa bagi diri sendiri.
Rasulullah SAW telah memberikan peringatan tegas terkait etika menghadiri jamuan makan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, beliau bersabda:
“Barang siapa yang mendatangi jamuan makan (undangan) yang tidak diundang, maka ia masuk sebagai pencuri dan keluar sebagai perampok (memakan makanan yang haram).” (HR. Abu Dawud).
Dalam tinjauan hukum Islam, makanan yang dikonsumsi oleh tamu yang tidak diundang dalam acara walimah baik itu walimatul ‘urs (pernikahan), walimatul khitan, hingga walimatus safar dianggap tidak halal. Hal ini dikarenakan tidak adanya keridhaan dari pemilik hajat (tasharruf fi mali ghairihi bi ghairi idznihi).
Seringkali di tengah meriahnya pesta, sebagian oknum lupa diri. Demi eksistensi sosial atau sekadar mengincar hidangan, ada yang nekat hadir meski tidak pernah menerima undangan secara resmi.
Padahal, petuah orang tua-tua Melayu terdahulu sangat menjunjung tinggi harga diri. “Datang jika diundang, duduk jika dipersilakan.
” Kehadiran tanpa undangan bukan hanya melanggar syariat, tetapi juga mencederai adab dan budaya kita sebagai masyarakat yang beradab. Jangan sampai karena mengejar “makan enak”, seseorang justru membawa pulang penyakit hati atau “sakit perut” karena mengonsumsi sesuatu yang bukan haknya.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap adab tersebut, jajaran Tuah Aliansi Anak Melayu secara resmi hadir memenuhi undangan Resepsi Pernikahan adik kandung dari anggota Komunitas Emak-Emak Duri Beraksi, yang digelar pada:
Hari/Tanggal: Sabtu, 14 Februari 2026
Lokasi: Jalan Jend. Sudirman, Kelurahan Balai Raja, Kecamatan Pinggir.
Kehadiran ormas ini merupakan wujud nyata solidaritas antar-komunitas di Duri dan Pinggir yang tetap mengedepankan etika bertamu.
“Mari kita jaga marwah komunitas dengan mengedepankan etika. Pastikan kita hadir karena benar-benar diundang sebagai bentuk penghormatan kepada shohibul hajat,” pesan tokoh masyarakat setempat. Semoga dengan menjaga adab, acara yang diselenggarakan menjadi berkah bagi mempelai dan juga bagi seluruh tamu yang hadir memenuhi undangan. (FN)






